Remake Zelda: Ocarina of Time resmi bocor ke publik dan sudah bisa dijalankan di PC melalui emulator Nintendo Switch 2 bernama Lichii, padahal game tersebut baru dijadwalkan meluncur resmi pada 5 November mendatang. Kebocoran ini dipicu oleh sejumlah toko retail yang secara prematur mengirimkan atau mengizinkan pengambilan fisik cartridge lebih awal kepada pembeli.
Fenomena ini memicu kekhawatiran besar bagi Nintendo terkait maraknya pembajakan di konsol generasi terbarunya. Komunitas homebrew dan peretas berhasil memanfaatkan celah keamanan sistem file Nintendo Switch 2 melalui eksploit ns2jb, yang membuka jalan bagi ekstraksi game dump serta komputasi emulasi di perangkat PC.
Performa Emulator Lichii: Frame Rate Naik Turun dan Masalah Rendering Visual
Uji coba penjalangan Zelda: Ocarina of Time pada emulator Lichii menunjukkan bahwa optimasi software emulasi PC masih sangat awal. Performa yang dihasilkan tergolong belum stabil untuk penggunaan harian. Frame rate berfluktuasi cukup tajam di rentang 20 hingga 60 fps. Patah-patah atau stuttering terjadi secara berkala saat pengujian gameplay berlangsung.
Secara visual, emulator Lichii mengalami kendala besar dalam pemrosesan warna. Tampilan grafis terlihat sangat pudar (washed out), bahkan karakter Link sering kali nyaris tidak terlihat akibat kesalahan rendering warna. Performa emulasi belum stabil.
Meski begitu, sektor audio justru menyajikan kejutan positif. Musik latar dan efek suara game mampu dimainkan tanpa jeda atau distorsi sama sekali. Audio terdengar sangat mulus. Kompatibilitas audio ini membuktikan bahwa arsitektur emulator dasar berbasis turunan Yuzu milik Nintendo Switch generasi sebelumnya memiliki dasar komputasi yang kuat. Namun, penurunan performa visual tetap menjadi kendala utama. Emulasi PC belum siap.
Celah Keamanan ns2jb dan Peretasan Sistem File Nintendo Switch 2
Progres komunitas homebrew dalam meretas Nintendo Switch 2 bergerak sangat cepat meski belum mencapai eksploit kernel secara penuh. Peretasan yang terjadi saat ini mengandalkan eksploit ns2jb, yang menyerang celah kerentanan pada sistem file konsol. Melalui metode ini, peretas dapat memodifikasi judul game generasi terkini sekaligus melakukan dumping file mentah dari cartridge fisik.
Selain Zelda: Ocarina of Time, data datamining mengarahkan eksploit serupa pada judul first-party Nintendo lainnya. Game seperti Mario Kart World dan Donkey Kong Bananza sebelumnya juga telah terkonfirmasi dapat dijalankan di luar ekosistem konsol resmi. Maraknya kebocoran file game secara prematur mengancam potensi pendapatan Nintendo pada periode krusial peluncuran, meskipun angka pemesanan awal (pre-order) game dilaporkan memecahkan rekor.
Respon Nintendo dan Pemblokiran Celah Eksploit Retail
Nintendo bergerak cepat guna membendung gelombang peretasan dan distribusi ilegal ini. Langkah Nintendo cukup agresif. Produsen asal Jepang tersebut dilaporkan telah menarik aplikasi SmileBASIC 4 dari toko digital eShop. Aplikasi tersebut diidentifikasi sebagai pintu masuk utama (entry point) untuk menjalankan eksploit ns2jb pada tingkatan pengguna.
Langkah preventif juga merambah ke ranah media fisik game pihak ketiga. Rumor yang beredar di kalangan industri menyebutkan bahwa Nintendo meminta pihak retail menarik kembali cartridge Civilization 7. Game Civilization pada Switch generasi awal sebelumnya menjadi sarana celah userland access yang dikenal sebagai CivSwitch. Bagi para gamer, pengalaman terbaik memainkan remake Zelda: Ocarina of Time saat ini tetap berada pada perangkat genggam Switch 2 resmi, mengingat emulator PC masih membutuhkan waktu pengembangan yang panjang untuk mencapai kondisi stabil.



