GAMING / LIPUTAN KHUSUS

Remake Zelda: Ocarina of Time di Switch 2 Andalkan AMD FSR 1.0 dan Lewatkan Nvidia DLSS

/ Menu lisensi remake Zelda: Ocarina of Time di Nintendo Switch 2 memperlihatkan penggunaan AMD FSR 1.0 dan SMAA alih-alih fitur AI Nvidia DLSS.

HANA LEE •
Tampilan remake game Zelda Ocarina of Time di Nintendo Switch 2
Visual pembaruan The Legend of Zelda: Ocarina of Time Remake yang dikembangkan khusus untuk konsol Nintendo Switch 2.
FOTO: Dok. Nintendo

Kabar mengejutkan datang bagi para penggemar yang menantikan peluncuran game eksklusif Nintendo Switch 2. Versi pembaruan dari game legendaris The Legend of Zelda: Ocarina of Time dipastikan menggunakan teknologi peningkatan resolusi AMD FSR 1.0 serta sistem anti-aliasing SMAA, alih-alih memanfaatkan fitur Nvidia DLSS. Temuan ini terungkap melalui menu lisensi kekayaan intelektual (IP Notices) versi 1.0.0 yang beredar di media sosial sebelum peluncuran resminya pada 5 November mendatang.

Langkah Nintendo yang melewati penggunaan Nvidia DLSS pada game buatan sendiri ini memicu diskusi hangat di komunitas pemain. Padahal, konsol Nintendo Switch 2 dibekali cip khusus dari Nvidia yang dilengkapi Tensor Core untuk menjalankan pemrosesan berbasis kecerdasan buatan. Pemesanan game remake versi digital ini dibanderol sebesar Rp1,1 jutaan ($59.99), sedangkan edisi fisik ditawarkan seharga Rp1,2 jutaan ($69.99).

Bocoran Lisensi Menjelang Hari Peluncuran

Informasi penggunaan AMD FSR 1.0 ini pertama kali diunggah oleh akun SuperMetalDave64 melalui sebuah video singkat di platform X. Dalam video tersebut, menu perangkat lunak game dibuka hingga memperlihatkan daftar lisensi pihak ketiga. Salah satu poin dengan jelas mencantumkan nama "FidelityFX Super Resolution 1.0 (FSR)" dengan hak cipta tahun 2021 milik Advanced Micro Devices.

Selain itu, dokumen teknis tersebut juga memuat lisensi implementasi Edge Adaptive Spatial Upsampling (EASU) milik AMD FSR yang telah dioptimalkan untuk perangkat seluler. Fitur EASU merupakan bagian penting dari FSR 1.0 yang berfungsi membesarkan skala gambar visual. Fasilitas AI Nvidia absen. Di baris lain, terdapat pula lisensi untuk teknologi SMAA tanpa mencantumkan rincian apa pun mengenai Nvidia DLSS.

Perbedaan Teknis FSR 1.0 dan Nvidia DLSS

Pilihan teknologi ini membawa konsekuensi teknis pada tampilan grafis game. FSR 1.0 bekerja sebagai spatial upscaler konvensional. Sistem ini mengambil setiap bingkai gambar yang dirender pada resolusi lebih rendah, lalu membesarkannya secara terisolasi tanpa memanfaatkan data dari bingkai sebelumnya. Pemrosesan ini memang tergolong ringan bagi kinerja mesin. Namun, detail halus kerap tidak tersaji dengan sempurna.

Dampaknya paling terlihat pada objek geometri tipis seperti rumput dan dedaunan. Keputusan ini menuai sorotan. Sebaliknya, Nvidia DLSS mampu merekonstruksi kualitas gambar menggunakan model pembelajaran mesin yang memanfaatkan data bingkai sebelumnya secara temporal. Perbedaan teknisnya terasa nyata. Beberapa pemain di forum r/Switch2 sempat mengeluhkan efek kerlip atau shimmering pada vegetasi lingkungan yang terlihat dalam cuplikan trailer perdana remake tersebut.

Alasan di Balik Pilihan Mesin Game Nintendo

Penyertaan lisensi pihak ketiga ini mengonfirmasi bahwa kode FSR 1.0 memang tertanam di dalam game. Kendati demikian, dokumen tersebut tidak merinci kapan peningkatan resolusi tersebut aktif atau pada resolusi dasar berapa game diproses. Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi pada game platformer Donkey Kong Bananza yang rilis pada Juli 2025 lalu. Game tersebut juga menerapkan perpaduan FSR 1.0 dan SMAA dengan rentang resolusi 1080p hingga 1200p saat dimainkan dalam mode dok. Selain itu, Mario Kart World juga meluncur tanpa fitur DLSS.

Tim pengembang Donkey Kong Bananza pernah mengungkapkan bahwa proyek mereka awalnya dirancang untuk konsol Nintendo Switch generasi pertama yang belum mendukung perangkat keras Nvidia DLSS. Batasan arsitektur mesin game lama diyakini menjadi penyebab utama mengapa judul-judul perdana buatan Nintendo belum mengadopsi teknologi AI Nvidia. Di sisi lain, studio pihak ketiga justru sukses menerapkan DLSS pada Nintendo Switch 2 sejak konsol ini meluncur pada Juni 2025. Sebagai contoh, CD Projekt Red menghadirkan DLSS di seluruh empat mode penggunaan pada Cyberpunk 2077, sementara Hogwarts Legacy memanfaatkan model DLSS yang lebih ringan untuk mencapai output resolusi 1440p.

Sentuhan Visual Modern untuk Game Klasik 1998

Game ini tampil memukau. Sebagai remake penuh dari judul klasik Nintendo 64 tahun 1998, The Legend of Zelda: Ocarina of Time tetap menjadi salah satu proyek paling diantisipasi di Nintendo Switch 2. Permainan ini pertama kali dipamerkan secara resmi dalam ajang Zelda 40th Anniversary Direct pada 8 September lalu.

Nintendo menghadirkan perombakan visual menyeluruh, pengisian suara karakter secara penuh, hingga aransemen musik orkestra baru. Pemain bahkan bisa memainkan alat musik ocarina secara interaktif menggunakan mikrofon bawaan konsol. Meskipun ada catatan terkait pemilihan teknik upscaling grafis, pembaruan fitur ini diprediksi tetap menyedot perhatian para penggemar lama maupun pemain baru.

TANYA JAWAB

FAQ Seputar Remake Zelda

Q1Mengapa remake Zelda: Ocarina of Time tidak menggunakan Nvidia DLSS?
Sama seperti game first-party Nintendo lainnya, proyek ini awalnya dirancang menggunakan mesin game dari Nintendo Switch generasi pertama yang belum mendukung arsitektur keras Nvidia DLSS.
Q2Berapa harga game Zelda: Ocarina of Time Remake untuk Switch 2?
Game ini dibanderol seharga Rp1,1 jutaan ($59.99) untuk versi digital dan Rp1,2 jutaan ($69.99) untuk versi fisik di pasar internasional.
Q3Apakah game pihak ketiga di Switch 2 sudah mendukung Nvidia DLSS?
Ya, studio pihak ketiga seperti CD Projekt Red pada Cyberpunk 2077 dan Hogwarts Legacy sudah menggunakan Nvidia DLSS pada Nintendo Switch 2.
SERI LIPUTAN

Eksplorasi Liputan #Nintendo

Semua #Nintendo
H
MOBILE & SMARTPHONE EDITOR

Hana Lee

Menulis liputan dan ulasan smartphone di KabarGadget.id. Fokus pada peluncuran perangkat baru, perbandingan spesifikasi, kebijakan pembaruan sistem, dan harga di pasar Indonesia.

LIHAT SEMUA ARTIKEL OLEH HANA LEE →

TERKAIT