Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra hadir sebagai representasi puncak teknologi layar lipat perusahaan dengan banderol harga mencapai Rp35,4 jutaan (2.000 USD). Meski membawa label Ultra yang menjanjikan fitur kelas wahid, perangkat ini memicu perdebatan di kalangan antusias teknologi karena beberapa kompromi spesifikasi yang dirasa kurang sejalan dengan ekspektasi seri Ultra milik Samsung.
Sebagai perangkat yang menargetkan segmen premium, kehadiran Fold8 Ultra menantang batasan desain dan fungsi. Namun, perbandingan langsung dengan Samsung Galaxy S26 Ultra mengungkapkan celah yang cukup signifikan, terutama dalam aspek produktivitas dan kapabilitas fotografi yang biasanya menjadi tulang punggung identitas seri Ultra.
Tantangan Produktivitas dan Fitur Layar
Salah satu poin yang paling disayangkan oleh para pengamat adalah absennya dukungan S Pen. Dengan layar internal seluas 8 inci, semestinya perangkat ini menjadi kanvas ideal bagi pengguna profesional. Keputusan untuk tidak menyertakan lapisan digitizer pada layar lipat ini membuat Fold8 Ultra kehilangan nilai jual utama yang selama ini menjadi pembeda seri flagship Samsung. Pengguna yang mengharapkan efisiensi kerja ala seri Note atau S Ultra mungkin akan merasa kehilangan fitur esensial ini.
Selain itu, aspek ketahanan juga menjadi sorotan. Meskipun Samsung telah menyematkan engsel titanium yang kokoh, sertifikasi IP48 yang diusung masih menyisakan kerentanan terhadap partikel debu halus. Untuk sebuah perangkat di kelas harga tersebut, standar ketahanan debu yang lebih tinggi, seperti IP68, seharusnya menjadi fitur standar untuk memberikan ketenangan pikiran bagi pengguna dalam berbagai kondisi lingkungan.
Komparasi Kamera dan Material Layar
Beralih ke sektor visual, layar eksternal Fold8 Ultra belum mendapatkan lapisan anti-reflektif Corning Gorilla Armor 2 yang ada pada S26 Ultra. Meskipun layar internal sudah dibekali lapisan khusus anti-silau, layar luar perangkat ini masih cukup reflektif dalam kondisi pencahayaan terang. Hal ini menciptakan pengalaman penggunaan yang kurang konsisten di antara kedua layar tersebut.
Kritik juga tertuju pada konfigurasi kamera belakang. Dibandingkan dengan S26 Ultra, Fold8 Ultra kekurangan lensa telefoto kedua yang mumpuni. Akibatnya, performa zoom pada jarak jauh tidak seimpresif model flagship standar Samsung. Modul kamera yang besar dan menonjol juga membuat perangkat ini kurang stabil saat diletakkan di atas permukaan datar, yang memberikan kesan bahwa desain modul tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan secara teknis.
Evaluasi Nilai dan Kesimpulan
Meskipun memiliki berbagai catatan kritis, Galaxy Z Fold8 Ultra tetap merupakan pencapaian teknik yang luar biasa dalam industri perangkat lipat. Samsung berhasil menghadirkan layar yang canggih dengan kualitas visual yang memukau. Namun, bagi konsumen yang mendambakan pengalaman 'Ultra' sejati, beberapa kompromi di atas perlu menjadi pertimbangan matang. Perangkat ini sangat cocok bagi mereka yang mengutamakan mobilitas layar lebar, namun mungkin kurang memuaskan bagi pengguna yang sangat bergantung pada ekosistem S Pen dan keunggulan fotografi jarak jauh yang superior.



