Industri rakitan PC dan laptop kembali diterjang badai kenaikan harga komponen yang sangat mengkhawatirkan. Kontrak harga memori NAND flash meroket hingga 303 persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir akibat lonjakan permintaan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Dampaknya kini mulai menggerus kantong konsumen ritel yang berencana melakukan upgrade penyimpanan.
Data industri menunjukkan bahwa harga kontrak SSD tipe TLC berkapasitas 256GB menyentuh angka sekitar Rp2,4 jutaan ($134.2) pada kuartal ketiga tahun 2026. Angka ini melonjak tajam dari posisi Rp589 ribuan ($33.3) pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan sebesar 303 persen secara year over year dan 20 persen secara quarter over quarter ini mencerminkan betapa ketatnya pasokan komponen memori di tingkat global. Kondisi pasar kian menekan.
Pasokan Terkuras untuk Server AI dan Infrastruktur Cloud
Tren kenaikan harga ini dipicu oleh ekspansi masif infrastruktur AI inference milik para penyedia layanan cloud. Server AI membutuhkan penyimpan data berkecepatan tinggi dengan kapasitas raksasa. Hal ini membuat permintaan enterprise SSD berbasis QLC melonjak lebih dari 80 persen secara tahunan pada 2026.
Produsen memori utama seperti SK hynix dan Micron secara terang-terangan memprioritaskan lini produksi untuk klien korporasi. SK hynix bahkan telah mengalokasikan seluruh kapasitas produksi NAND flash mereka hingga akhir tahun 2026. Sementara itu, Micron mengonfirmasi bahwa lebih dari 75 persen kapasitas produksi untuk tahun fiskal 2027 sudah ludes dipesan pelanggan korporasi. Kapasitas ritel kian tergerus.
Laporan TrendForce memproyeksikan harga kontrak NAND flash masih akan naik sekitar 15 persen hingga 20 persen pada kuartal keempat 2026. Untuk segmen enterprise SSD, kenaikannya diperkirakan makin tinggi di kisaran 23 persen hingga 28 persen. Pasokan baru dari fasilitas pabrik SK hynix dan Micron diprediksi belum bisa memberikan dampak signifikan hingga pertengahan atau akhir 2027.
SanDisk Terbatas dan Efek Domino ke Konsumen Ritel
Masalah krisis pasokan ini kian diperparah oleh keterbatasan kapasitas manufaktur SanDisk. Pasca penghentian produksi sekitar 560.000 wafer per bulan saat fase penurunan industri sebelumnya, kapasitas NAND flash SanDisk masih tertahan 30 persen di bawah puncaknya pada tahun 2022. Membangun dan mengaktifkan lini produksi baru butuh waktu bertahun-tahun.
Efek krisis ini merembet langsung ke pasar ritel. SSD NVMe Gen4 1TB rata-rata dibanderol sekitar Rp2,5 jutaan ($144) pada pertengahan Oktober. Bahkan, drive Samsung 990 Evo Plus 1TB kini dipatok pada kisaran Rp4,2 jutaan ($237). Angka tersebut melonjak sangat jauh dari titik harga terendahnya yang pernah menyentuh Rp1 jutaan ($59).
Situasi ini memaksa para produsen PC dan laptop memutar otak demi menekan biaya produksi. Banyak manufaktur mulai menghabiskan stok lama, memangkas volume pemesanan, hingga terpaksa menurunkan kapasitas SSD bawaan pada laptop dan komputer harian.
Dilema Upgrade Rakitan PC dan Rekomendasi Pembelian
Bagi para perakit PC dan penggemar game yang berencana menambah ruang penyimpanan, situasi saat ini memang kurang menguntungkan. Membeli SSD saat ini berarti harus membayar ekstra mahal untuk kapasitas yang sama dibanding tahun lalu. Jika PC Anda masih memiliki kapasitas penyimpanan yang memadai, menunda upgrade hingga pasokan stabil di pertengahan 2027 merupakan pilihan paling rasional.
Namun, jika kebutuhan upgrade sudah sangat mendesak untuk kerja atau menyimpan berkas berukuran raksasa, mengamankan unit SSD bergaransi resmi sekarang bisa jadi langkah antisipasi sebelum harga merangkak lebih tinggi pada kuartal mendatang.



