Bukan Sony, Ini Rival Abadi Nintendo Menurut Miyamoto

Shigeru Miyamoto menyebut rival abadi Nintendo bukan Sony atau Sega, melainkan Rubik’s Cube yang menjadi tolok ukur inovasi untuk semua orang.

Penulis: Yokoyama
Tanggal: Kamis, 27 Agustus 2026 pukul 09.00
Shigeru Miyamoto dalam konteks filosofi desain Nintendo dan rivalitas dengan Rubik’s Cube
Shigeru Miyamoto menjadikan Rubik’s Cube sebagai metafora tolok ukur inovasi Nintendo.
Nintendo

Selama puluhan tahun, nama Sony dan Sega kerap dianggap sebagai lawan utama Nintendo dalam persaingan konsol. Namun, Shigeru Miyamoto ternyata memiliki definisi rival yang jauh lebih luas. Bagi kreator Mario, Zelda, Donkey Kong, dan Star Fox tersebut, pesaing abadi Nintendo bukanlah perusahaan game, melainkan Rubik’s Cube.

Pernyataan ini muncul dalam percakapan Miyamoto bersama pengembang Kenji Eno di kantor Nintendo, Kyoto, pada 15 Juli 1996. Terjemahan bahasa Inggrisnya diterbitkan Shmuplations pada Juli 2026. Miyamoto mengulang gagasan serupa dalam percakapan dengan Toshihiro Nagoshi dari Sega pada 1999, sehingga pandangan tersebut tampaknya bukan komentar spontan atau sekadar lelucon.

Rubik’s Cube sebagai Tolok Ukur Desain

Miyamoto menjelaskan bahwa latar belakangnya di bidang desain industri memengaruhi cara ia menilai produk Nintendo. Ia tidak hanya membandingkan game dengan karya pengembang lain, tetapi juga dengan produk populer yang mampu menarik perhatian orang yang sebelumnya tidak menganggap dirinya sebagai pemain game.

Dalam pandangannya, produk ideal adalah sesuatu yang membuat masyarakat umum berkata, “Wow, komputer bisa melakukan itu?” Rubik’s Cube dianggap mewakili jenis inovasi tersebut: sederhana untuk dipahami, menarik secara visual, dan mampu mengundang rasa ingin tahu bahkan dari orang yang bukan bagian dari komunitas tertentu.

Nintendo Tidak Hanya Mengejar Pemain Lama

Pernyataan Miyamoto membantu menjelaskan strategi Nintendo yang sering berbeda dari produsen konsol lain. Ketika Sony dan Sega banyak bertarung melalui spesifikasi, katalog game, serta basis penggemar yang sudah terbentuk, Nintendo berulang kali mencoba memperluas definisi pemain.

Targetnya bukan semata-mata memuaskan penggemar veteran, melainkan membuat orang yang belum pernah bermain tertarik untuk mencoba. Pendekatan ini juga memperlihatkan tantangan yang diakui Miyamoto sendiri. Nintendo pernah kesulitan menjangkau audiens lebih luas melalui GameCube, meski konsol tersebut memiliki sejumlah game populer dan perangkat keras yang kompeten.

Pelajaran dari Rivalitas yang Tidak Biasa

Jika dipahami secara harfiah, Rubik’s Cube tentu bukan pesaing langsung Nintendo. Produk tersebut tidak menjual konsol, tidak memiliki karakter digital, dan tidak bertarung untuk mendapatkan waktu bermain di depan layar. Namun, secara konseptual, keduanya berebut hal yang sama: perhatian, rasa ingin tahu, dan kesempatan untuk menjadi pengalaman yang dibagikan kepada banyak orang.

Di sinilah relevansi ucapan Miyamoto bagi industri game modern. Persaingan tidak selalu ditentukan oleh perusahaan dengan produk serupa. Game juga harus bersaing dengan video pendek, media sosial, layanan streaming, mainan, serta berbagai aktivitas rekreasi lain. Dengan menjadikan Rubik’s Cube sebagai rival, Miyamoto menekankan bahwa inovasi Nintendo seharusnya tidak berhenti pada pemenuhan ekspektasi pemain lama, tetapi mampu menciptakan pengalaman yang mengejutkan publik luas.

Dokumen yang diterjemahkan Shmuplations juga menunjukkan bahwa filosofi tersebut telah menjadi bagian dari pemikiran Miyamoto sejak era Nintendo 64. Jadi, rivalitas dengan Rubik’s Cube bukan pengganti Sony atau Sega dalam perang konsol, melainkan metafora tentang standar kreativitas yang ingin dicapai Nintendo.

TERKAIT

TERKAIT