Sony memperluas lini televisi OLED-nya melalui Bravia 6, model entry-level yang dirancang untuk menjangkau konsumen yang ingin menikmati kualitas OLED tanpa harus membeli seri premium. Televisi ini ditempatkan di bawah Bravia 8 dan Bravia 8 II, sekaligus menjadi penantang langsung bagi LG B6 di kelas harga yang sama.
Harga Sony Bravia 6 dimulai dari sekitar Rp23 jutaan (1.300 dolar AS) untuk ukuran 48 inci. Sony juga menyiapkan varian 55 inci sekitar Rp26,5 jutaan (1.500 dolar AS), 65 inci Rp35,4 jutaan (2.000 dolar AS), 77 inci Rp53,1 jutaan (3.000 dolar AS), serta versi terbesar 83 inci sekitar Rp70,8 jutaan (4.000 dolar AS). Harga tersebut merupakan konversi dari banderol global dan belum mencerminkan pajak maupun harga resmi di Indonesia.
Panel OLED 4K dengan Dukungan HDR Lengkap
Bravia 6 menggunakan panel OLED 4K wide-angle yang ditenagai mesin pemrosesan warna Triluminos Pro. Teknologi ini menjadi salah satu kekuatan utama Sony dalam mengolah warna, terutama pada konten film dan serial dengan gradasi warna kompleks. Namun, berbeda dari seri yang lebih mahal, televisi ini hanya memakai prosesor video 4K standar dan tidak memperoleh XR Processor milik kelas premium.
Untuk kebutuhan hiburan, Bravia 6 mendukung format HDR populer seperti Dolby Vision, HDR10, dan HLG. Sony juga menyertakan Google TV sebagai sistem operasi, lengkap dengan integrasi Gemini untuk pencarian suara. Fitur ini memungkinkan pengguna menemukan film, aplikasi, atau informasi tertentu melalui perintah suara tanpa harus mengetik menggunakan remote.
Empat HDMI 2.1 Jadi Daya Tarik untuk Gamer
Sektor gaming menjadi salah satu nilai jual paling menarik dari Bravia 6. Televisi ini dibekali system chip Pentonic 800 dan empat port HDMI 2.1 dengan bandwidth penuh. Seluruh port tersebut mendukung sinyal 4K pada 120Hz, sehingga pengguna konsol generasi terbaru dapat memperoleh gerakan lebih halus pada game yang kompatibel.
Fitur Variable Refresh Rate atau VRR membantu mengurangi efek gambar patah ketika frame rate game berubah-ubah. Ada pula Auto Low Latency Mode yang secara otomatis mengaktifkan mode latensi rendah saat konsol terdeteksi. Meski demikian, performa gaming pada kondisi nyata tetap akan dipengaruhi kualitas panel, tingkat kecerahan, dan implementasi pemrosesan gambar Sony.
Kompromi untuk Menekan Harga
Strategi harga Bravia 6 terlihat dari beberapa fitur yang sengaja dipangkas. Televisi ini tidak memiliki lapisan anti-reflektif premium seperti model di atasnya, sehingga pantulan cahaya dari jendela atau lampu ruangan berpotensi lebih mengganggu. Tingkat kecerahan puncaknya juga diperkirakan lebih rendah, membuatnya lebih ideal digunakan di ruang dengan pencahayaan redup atau terkontrol.
Bravia 6 turut menghilangkan teknologi Acoustic Surface Audio yang membuat suara keluar langsung dari permukaan panel pada OLED Sony kelas atas. Sebagai gantinya, perangkat ini memakai kombinasi driver full-range dan tweeter konvensional. Dukungan decoding serta passthrough Dolby Atmos dan DTS:X tetap tersedia, sementara dudukannya dapat diatur ketinggiannya agar soundbar bisa ditempatkan tanpa menutupi layar.
Dengan harga varian 65 inci yang sama-sama berada di sekitar Rp35,4 jutaan (2.000 dolar AS) seperti LG B6, Sony Bravia 6 menawarkan persaingan yang cukup ketat. Keunggulannya terletak pada empat HDMI 2.1, pemrosesan warna Triluminos Pro, dan ekosistem Google TV. Sebaliknya, calon pembeli harus menerima kecerahan lebih rendah, absennya lapisan anti-reflektif premium, serta sistem audio yang lebih sederhana. Bravia 6 paling masuk akal bagi pengguna yang mengutamakan OLED dan fitur gaming, tetapi tidak membutuhkan teknologi gambar serta audio paling canggih dari Sony.