Betelgeuse kembali mengejutkan astronom. Bintang raksasa merah yang mudah dikenali di rasi Orion ini ternyata memiliki permukaan yang jauh dari bentuk bulat sempurna. Pengamatan terbaru menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array atau ALMA memperlihatkan permukaan yang tidak beraturan, lengkap dengan dua wilayah panas yang menonjol.
Temuan ini bukan sekadar keanehan visual. Bentuk bergelombang tersebut kemungkinan berkaitan dengan pergerakan plasma panas di dalam bintang yang sedang memasuki tahap akhir kehidupannya. Meski Betelgeuse dapat meledak sebagai supernova suatu hari nanti, astronom belum bisa memastikan apakah peristiwa itu terjadi dalam waktu dekat atau ribuan tahun lagi.
ALMA Menangkap Permukaan Betelgeuse yang Tidak Beraturan
Betelgeuse memiliki massa sekitar 20 kali Matahari, tetapi radiusnya diperkirakan mencapai 800 kali radius Matahari. Ukurannya yang ekstrem membuat bintang ini menjadi salah satu objek terbaik untuk dipelajari secara langsung menggunakan teleskop radio seperti ALMA. Berbeda dari teleskop cahaya tampak, ALMA dapat membantu astronom menelusuri lapisan atmosfer dan distribusi gas panas di sekitar bintang.
Gambar yang dihasilkan menunjukkan permukaan Betelgeuse tidak memiliki pola mulus seperti bola. Astronom menemukan dua area panas yang lebih menonjol dibanding wilayah sekitarnya. Suhu atmosfer bintang ini diperkirakan sekitar 2.030 derajat Celsius, jauh lebih rendah daripada permukaan Matahari, tetapi tetap cukup panas untuk memengaruhi bentuk dan dinamika atmosfernya.
Gerakan Plasma Diduga Membentuk Benjolan di Atmosfer
Penjelasan utama untuk bentuk tidak beraturan tersebut adalah konveksi, yakni pergerakan plasma panas dari bagian dalam menuju permukaan. Ketika plasma naik, material panas dapat menciptakan gelombang kejut yang merambat melalui atmosfer Betelgeuse. Proses inilah yang diduga menghasilkan struktur bergelombang atau benjolan pada permukaannya.
Menariknya, salah satu wilayah panas yang terlihat pada citra ALMA tahun 2023 ternyata juga tampak dalam pengamatan tahun 2015. Artinya, struktur tersebut setidaknya bertahan selama tujuh tahun. Durasi ini menjadi petunjuk bahwa sebagian aktivitas di permukaan Betelgeuse tidak bersifat singkat, melainkan dapat berlangsung jauh lebih lama daripada perkiraan sebelumnya.
Petunjuk Menuju Ledakan Supernova, tetapi Belum Pasti Kapan
Betelgeuse telah menghabiskan hidrogen di intinya dan kini berada dalam fase evolusi sebagai super raksasa merah. Kondisi tersebut menempatkannya pada tahap lanjut sebelum akhirnya mengalami perubahan besar. Dalam skenario tertentu, inti bintang akan terus mengalami reaksi fusi hingga tidak lagi mampu menahan gravitasinya sendiri.
Jika Betelgeuse meledak sebagai supernova, peristiwa itu akan menjadi tontonan astronomi yang sangat langka dan memberi kesempatan untuk mempelajari kematian bintang masif secara dekat. Namun, istilah “segera” dalam skala astronomi dapat berarti besok, beberapa abad lagi, atau bahkan ribuan tahun mendatang. Karena itu, bentuk permukaan yang berubah dan keberadaan wilayah panas lebih tepat dipandang sebagai petunjuk evolusi bintang, bukan tanda pasti bahwa ledakan akan terjadi dalam waktu dekat.