NEC resmi meluncurkan dua ultrabook premium terbaru buatan Jepang lewat lini Lavie S13 dan Lavie N13. Dirancang khusus untuk mobilitas tinggi dan alur kerja produktivitas harian, kedua laptop berlayar 13 inci ini membawa pendekatan desain dan konfigurasi mesin yang cukup kontras.
Lavie S13 menonjol sebagai varian performa tinggi berkat sokongan cip Intel Core Ultra generasi terbaru dan akselerasi komputasi AI lokal. Sementara itu, Lavie N13 mengincar pengguna dengan kebutuhan komputasi harian yang lebih berfokus pada kelengkapan port fisik tradisional.
Performa Mesin dan Komputasi AI Lokal: Lavie S13 Unggul Jauh
Dari sektor dapur pacu, Lavie S13 menawarkan lompatan performa yang nyata dibanding saudara kandungnya. Laptop ini menyediakan dua opsi prosesor, yakni Intel Core Ultra 5 322 berintikan 6-core dan Intel Core Ultra 7 355 berintikan 8-core. Berdasarkan pengujian sintesis Cinebench 2024, varian Core Ultra 7 sanggup mendominasi dengan keunggulan performa hingga 47 persen dibanding Core Ultra 5.
Penggunaan prosesor Core Ultra pada S13 turut membawa akselerasi unit pemrosesan saraf terdedikasi. NPU pada varian Core Ultra 5 menawarkan kemampuan hingga 46 TOPS. Sementara itu, varian Core Ultra 7 mampu memproses hingga 49 TOPS. Angka ini menjamin kelancaran eksekusi fitur berbasis AI lokal dan pengolahan prompt processing tanpa membebani daya CPU. Kombinasi memori RAM LPDDR5X hingga 32 GB dan penyimpanan PCIe SSD 1 TB memberi ruang kerja yang sangat lapang.
Sebaliknya, Lavie N13 mengandalkan jajaran prosesor Intel Wildcat Lake, yaitu Core 7 350 dan Core 5 320. Cip Core 7 350 hadir dengan konfigurasi 6-core dan 6-thread (2 performance core dan 4 efficiency core) pada batas daya 15 Watt. Hasil pengujian menunjukkan performa CPU ini hanya terpaut tipis di atas APU AMD Ryzen AI 5 430. Bahkan jika dibandingkan dengan Core 7 350 pada N13, performa Core Ultra 7 pada Lavie S13 masih lebih kencang 43 persen. Perbedaannya cukup signifikan.
Desain Sasis, Kapasitas Baterai, dan Pilihan Port I/O
Aspek desain menjadi pembeda lain yang menarik perhatian. Meskipun mengusung daya komputasi lebih tinggi, Lavie S13 justru memiliki sasis yang lebih tipis dan ringan. Dengan ketebalan hanya 12,9 mm, laptop ini berbobot 1.088 gram. Bobotnya sangat ringan. Keunggulan sasis S13 kian lengkap ber berkat penyematan baterai berkapasitas masif 76,1 Wh.
Di sisi lain, Lavie N13 hadir dengan ketebalan sasis 15 mm dan bobot 1,177 gram. Ketiadaan ruang sasis yang lebih tebal pada N13 justru diimbangi dengan baterai yang lebih kecil, yakni 54 Wh. Layar kedua perangkat sama-sama menggunakan panel IPS 13,3 inci dengan resolusi 1920 x 1200 piksel, dengan varian N13 menyediakan opsi layar sentuh.
Urusan konektivitas menyajikan trade-off yang kontras. Lavie N13 mempertahankan fleksibilitas tinggi dengan menyediakan dua port USB 3.2 Gen 2 Type-C, dua port USB 3.2 Gen 1 Type-A, port HDMI, slot MicroSD, audio jack 3,5 mm, serta Wi-Fi 6E. Opsi port ini terasa lengkap. Sementara Lavie S13 memilih pendekatan modern yang minimalis dengan memangkas port legacy, mengandalkan tiga port USB 3.2 Gen 2 Type-C, audio jack 3,5 mm, Wi-Fi 7, dan Bluetooth 5.4.
Menimbang Rasio Performa dan Bobot untuk Konsumen
Membawa label Japan-made, kedua laptop ini dipatok pada kisaran harga kelas atas. Varian terendah Lavie N13 dengan spesifikasi Core 5 320, RAM 16 GB, dan SSD 256 GB dibanderol sekitar Rp32,2 jutaan (¥279,840). Sementara itu, Lavie S13 varian dasar yang mengusung Core Ultra 5 322, RAM 16 GB, dan SSD 256 GB dilepas dengan harga mulai Rp34,5 jutaan (¥299,860).
Sebagai catatan, NEC memasarkan lini Lavie secara eksklusif untuk pasar domestik Jepang. Konsumen luar negeri harus menggunakan jalur impor untuk memboyong perangkat ini. Dari sudut pandang hardware reviewer, Lavie S13 tampil lebih superior. Kerapatan energi baterai 76,1 Wh di dalam bodi 1 kg serta sokongan NPU 49 TOPS menjadikan S13 sebagai ultrabook produktivitas yang sangat solid, mendominasi N13 di hampir semua parameter teknis utama.


