Intel resmi menyingkap akselerator kecerdasan buatan pertama dalam lini GPU D-series yang mengusung sandi Crescent Island. Berbeda dari kartu grafis konvensional yang mengejar performa visual, Intel GPU D270 dikembangkan secara spesifik untuk menangani beban kerja inferensi AI dan model bahasa besar tanpa menyertakan dukungan grafis 3D.
Keputusan pabrikan semikonduktor asal Amerika Serikat ini menandai pergeseran strategi dalam penyediaan perangkat keras pusat data. Alih-alih memprioritaskan ray-tracing atau rendering poligon, seluruh sumber daya silikon pada kartu ini difokuskan sepenuhnya untuk komputasi matriks dan pemrosesan data berkapasitas masif.
Konfigurasi Memori Masif Tanpa Teknologi HBM
Salah satu aspek paling menonjol dari akselerator ini terletak pada arsitektur memorinya. Kartu referensi buatan Intel dibekali memori LPDDR5X sebesar 160GB, sementara mitra manufaktur dapat mengembangkan varian dengan kapasitas mencapai 480GB. Pilihan ini tergolong unik karena meninggalkan penggunaan memori High-Bandwidth Memory atau HBM yang lazim diadopsi oleh kompetitor di kelas data-center.
Penggunaan LPDDR5X memungkinkan efisiensi biaya penerapan yang lebih tinggi serta kapasitas tampung yang lebih luas. Model bahasa besar atau large language models membutuhkan ruang penyimpanan memori yang besar untuk memuat bobot model secara optimal serta mengelola riwayat percakapan yang panjang secara simultan.
Performa Komputasi dan Desain Pendingin Udara
Dari sisi kemampuan komputasi, perangkat ini menawarkan bandwidth memori hingga 1,5 TB/s dengan puncak performa FP8 mencapai 1,3 petaflops. Seluruh tenaga tersebut dikemas dalam target daya sebesar 350 watt dengan antarmuka PCIe 5.0 x16 yang menggunakan sistem pendingin udara standar.
Desain fisik ini memberikan keunggulan tersendiri bagi pengelola infrastruktur server. Kartu dapat dipasang langsung ke dalam rak server konvensional di pusat data tanpa harus merombak sistem atau memasang infrastruktur pendingin cair yang rumit dan mahal.
Arsitektur Tanpa Grafis 3D untuk Efisiensi Silikon
Di balik performanya, GPU ini mengandalkan 32 core Xe3P, 256 engine XMX untuk akselerasi operasi matriks, serta cache L2 terpadu sebesar 32MB. Intel secara sengaja memangkas seluruh sirkuit keras untuk grafis 3D dan ray-tracing konvensional. Langkah ini membebaskan area silikon yang luas agar dapat dialokasikan sepenuhnya untuk kebutuhan komputasi dan pemrosesan AI.
Pihak produsen menyatakan bahwa lini GPU D-series menyasar kebutuhan model bahasa besar, inferensi konteks panjang, dan layanan yang memproses banyak permintaan AI secara bersamaan. Satu kartu diklaim mampu menangani model hingga 300 miliar parameter. Sementara itu, satu unit server yang dilengkapi delapan akselerator dapat mendukung model dengan kapasitas melampaui satu triliun parameter.
Target penggunaan praktis mencakup asisten perusahaan, agen AI, pemahaman dokumen, kecerdasan buatan multimodal, hingga model difusi dengan konkurensi tinggi. Saat ini, proses pengujian sampel pelanggan sedang berjalan bersama produsen server, penyedia layanan awan, dan pengembang perangkat lunak. Meski demikian, Intel belum mengumumkan rincian harga resmi maupun jadwal ketersediaan global di pasar.



