Twitter Kembali, Tapi Bukan di Bawah Elon Musk

Nama Twitter kembali online lewat Twitter.now, jejaring sosial baru yang meniru layanan lama dan memakai AI untuk memeriksa setiap unggahan.

Penulis: Anif Sirsaeba
Tanggal: Jumat, 28 Agustus 2026 pukul 21.05
Tampilan Twitter.now sebagai jejaring sosial yang menghidupkan kembali identitas Twitter
Twitter.now mencoba mengembalikan pengalaman Twitter lama dengan fitur percakapan dan pemeriksaan fakta berbasis AI.
Operation Bluebird

Nama Twitter kembali muncul di internet, tetapi bukan melalui platform milik Elon Musk. Startup Operation Bluebird meluncurkan Twitter.now, jejaring sosial baru yang berusaha menghidupkan kembali identitas Twitter setelah perusahaan tersebut diubah namanya menjadi X pada 2023.

Peluncuran ini berlangsung di tengah sengketa merek dagang yang belum selesai. Operation Bluebird didirikan Stephen Coates, mantan penasihat hukum utama Twitter sebelum akuisisi Musk. Ia berpendapat bahwa X telah meninggalkan sebagian hak atas nama Twitter dan elemen merek lamanya.

Twitter.now Menghidupkan Kembali Nuansa Platform Lama

Secara tampilan dan cara kerja, Twitter.now sengaja dibuat menyerupai Twitter klasik. Pengguna dapat membuat unggahan, membalas percakapan, serta melakukan retweet. Pendekatan ini menjadi daya tarik utama bagi pengguna yang merasa perubahan Twitter menjadi X telah menghilangkan karakter asli platform tersebut.

Meski demikian, Twitter.now masih berada dalam tahap sangat awal. Jumlah penggunanya baru mencapai ratusan orang, sehingga belum bisa dibandingkan dengan skala X maupun masa kejayaan Twitter. Keberhasilan platform ini akan sangat bergantung pada kemampuannya membangun komunitas aktif, menjaga moderasi, dan meyakinkan pengguna bahwa layanan tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.

Vera Menjadi Pembeda Lewat Pemeriksaan Fakta Berbasis AI

Perbedaan terbesar Twitter.now terletak pada Vera, sistem pemeriksaan fakta berbasis kecerdasan buatan yang menggunakan teknologi Gemini dari Google. Sistem ini dirancang untuk menganalisis setiap unggahan, kemudian membantu pengguna memahami apakah sebuah klaim memiliki indikasi keliru atau membutuhkan konteks tambahan.

Coates menguji Vera dengan sengaja memublikasikan klaim yang jelas-jelas salah untuk melihat bagaimana sistem tersebut merespons. Strategi ini menunjukkan bahwa Operation Bluebird ingin menjadikan transparansi dan pengujian publik sebagai bagian dari pengembangan fitur, bukan sekadar menjual label AI.

Namun, pemeriksaan fakta otomatis bukan solusi sempurna. AI dapat keliru memahami konteks, gagal mengenali satire, atau memberikan penilaian yang terlalu sederhana terhadap isu kompleks. Karena itu, Vera sebaiknya dipandang sebagai alat bantu verifikasi, bukan pengganti jurnalis, pakar, atau sumber primer.

Sengketa Hukum Masih Menjadi Risiko Terbesar

Rencana Operation Bluebird sebelumnya telah memicu gugatan dari X. Perusahaan Musk meminta hakim federal di Delaware menghentikan peluncuran Twitter.now, dengan alasan terkait hak kekayaan intelektual atas nama dan elemen branding Twitter.

Dalam sidang pada April 2026, Hakim Colm Connolly secara tentatif menyatakan bahwa X tampaknya telah meninggalkan klaim kekayaan intelektual atas kata “tweet”, logo burung, dan mungkin nama Twitter. Namun, hakim belum menerbitkan keputusan tertulis. Artinya, komentar tersebut belum menjadi putusan final yang otomatis mengakhiri sengketa.

Pengacara merek dagang Josh Gerben menilai Operation Bluebird memiliki argumen hukum yang mungkin dapat dipertahankan, tetapi kasusnya jauh dari jelas. X juga diperkirakan akan melanjutkan perlawanan setelah layanan baru tersebut resmi beroperasi.

Bagi pengguna, kemunculan Twitter.now menarik karena menawarkan nostalgia sekaligus eksperimen baru dalam moderasi berbasis AI. Namun, calon pengguna perlu memahami bahwa layanan ini masih kecil dan menghadapi ketidakpastian hukum. Nama Twitter memang kembali terlihat online, tetapi masa depannya masih ditentukan oleh pertumbuhan komunitas, akurasi Vera, dan hasil persidangan berikutnya.

TERKAIT

TERKAIT