Lenovo secara mengejutkan mencatatkan pencapaian bersejarah dengan merebut posisi puncak pengiriman server x86 global untuk pertama kalinya pada kuartal kedua tahun ini. Berdasarkan riset terbaru dari International Data Corporation (IDC), volume pengiriman server x86 milik Lenovo melesat hingga 45,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka pertumbuhan tersebut jauh melampaui rata-rata pertumbuhan industri server global yang berada di kisaran 8,9 persen.
Pencapaian luar biasa ini mendorong pangsa pasar pengiriman server x86 global Lenovo melompat ke angka 7,4 persen, atau naik dua peringkat dibandingkan kuartal kedua tahun sebelumnya. Di saat yang sama, kinerja finansial dari divisi pusat data produsen ini juga menorehkan rekor performa yang sangat solid.
Lonjakan Pendapatan dan Dominasi Pasar Server AI
Secara finansial, pendapatan dari lini server x86 Lenovo tumbuh sangat drastis sebesar 96 persen year-over-year (YoY) dan naik 46,9 persen dibanding kuartal sebelumnya. Total nilai pendapatan tersebut sukses menembus angka lebih dari Rp146,2 triliun ($8,26 miliar). Angka penumpukan pemesanan (backlog) untuk server berbasis AI Lenovo bahkan naik 157 persen dari kuartal sebelumnya, mencapai Rp955,8 triliun ($54 miliar).
Pertumbuhan yang paling menonjol datang dari pasar internasional di luar Tiongkok. Pendapatan server x86 Lenovo untuk kawasan mancanegara melesat hingga 160,1 persen YoY, didukung oleh peningkatan volume pengiriman sebesar 73,1 persen. Kondisi ini membuktikan bahwa strategi ekspansi global Lenovo untuk infrastruktur komputasi berskala besar berjalan sangat efektif.
Pergeseran Konsumen: Korporasi dan Pemerintah Mulai Borong Server
Pertumbuhan sektor server secara umum juga beriringan dengan melesatnya performa keuangan para penyedia komponen pendukung. Penyedia chip AI seperti Nvidia misalnya, mencatatkan pendapatan kuartalan yang fantastis mencapai lebih dari Rp1.699,2 triliun ($96 miliar). Secara keseluruhan, total pengiriman server global dari seluruh produsen tercatat tumbuh 15,4 persen YoY di tengah tantangan naiknya harga komponen memori.
IDC mencatat tren menarik di mana belanja server AI kini tidak lagi didominasi oleh perusahaan cloud raksasa (hyperscalers). Sektor korporasi swasta dan lembaga pemerintah kini mulai aktif berinvestasi membangun infrastruktur komputasi mandiri untuk keperluan AI training dan inference. Perubahan lanskap pembeli ini menjadi katalis penting bagi pergerakan industri server global saat ini.
Kenaikan Harga Server GPU dan Prospek Masa Depan
Meskipun volume pengiriman server berbasis akselerator GPU secara unit mengalami penurunan 10,8 persen YoY, nilai pendapatan dari kategori ini justru menyumbang hampir 53 persen dari total pendapatan pasar server global. Hal tersebut disebabkan oleh melonjaknya harga jual rata-rata (ASP) server berbasis GPU yang naik hampir 44 persen menjadi sekitar Rp3,01 miliar ($170.200) per unit.
Melihat tren pengadopsian kecerdasan buatan yang makin masif, IDC memprediksi bahwa pengeluaran untuk infrastruktur AI global akan terus mengalami akselerasi. Pada tahun 2026 mendatang, total belanja infrastruktur AI diperkirakan bakal menembus angka Rp8.619,9 triliun ($487 miliar), atau tumbuh sekitar 53 persen YoY. Momentum ini memberikan peluang emas bagi Lenovo untuk mempertahankan posisi kepemimpinannya di pasar server global.



