Pasar aset kripto global kembali memasuki fase krusial saat Bitcoin berjuang mempertahankan tren pemulihan harga. Menurut analisis terbaru dari lembaga riset rantai blok Glassnode, Bitcoin perlu melampaui level resistensi Rp1,52 miliar ($86.000) untuk mengonfirmasi kelanjutan tren penguatan, terutama di tengah dinamika permintaan pasar spot yang terus mengalami penyesuaian.
Para pemegang aset jangka panjang tercatat telah memegang sekitar 1,07 juta BTC di kisaran zona resistensi tersebut, dengan akumulasi terbesar berada di area Rp1,50 miliar ($85.000). Konsentrasi kepemilikan ini menjadikan area harga tersebut sebagai benteng krusial yang menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya.
Titik Impas Investor dan Potensi Tekanan Teknis
Area Rp1,52 miliar ($86.000) tidak hanya menjadi zona resistensi psikologis, tetapi juga bertepatan dengan estimasi titik impas (breakeven) rata-rata bagi pemegang ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Data Glassnode menunjukkan perbaikan posisi dana kelolaan ETF yang sangat signifikan sepanjang tahun ini. Total kerugian yang belum terealisasi (unrealized loss) pada produk ETF spot AS tercatat menyusut drastis dari level puncak sekitar Rp318,6 triliun ($18 miliar) pada Februari menjadi mendekati Rp69,03 triliun ($3,9 miliar).
Meskipun sebagian investor berpotensi melakukan aksi ambil untung saat harga mendekati titik impas, tekanan jual dari kelompok pemegang jangka panjang sejatinya mulai melandai. Proporsi realisasi keuntungan pemegang jangka panjang turun dari 88% pada puncak Agustus menjadi 47%. Di sisi lain, potensi tekanan beli baru dapat tercipta dari skenario likuidasi paksa (forced short liquidation) yang terkonsentrasi antara Rp1,45 miliar ($82.000) hingga Rp1,52 miliar ($86.000), di mana volume likuidasi potensial naik 21% sejak pertengahan Agustus.
Dinamika Likuiditas Pasar Spot dan Arus Dana ETF
Tantangan terbesar untuk menopang pergerakan harga berada pada kekuatan permintaan di pasar spot. Analis CryptoQuant, Darkfost, mengamati bahwa volume beli berkelanjutan di pasar spot belum sepenuhnya solid. Indikator rerata bergerak 90 hari untuk Cumulative Volume Delta (CVD) masih cenderung netral, meskipun aktivitas pasar berjangka (futures) memperlihatkan partisipasi yang cukup tinggi.
Kondisi likuiditas stablecoin di bursa utama juga mencerminkan fase konsolidasi pasar. Cadangan stablecoin di Binance yang sebelumnya melampaui Rp885 triliun ($50 miliar) sempat menyusut sekitar Rp123,9 triliun ($7 miliar). Walau sempat mengalami pemulihan cadangan sekitar Rp28,32 triliun ($1,6 miliar) dalam sebulan terakhir, tingkat perubahan 90 hari masih berada di area negatif 1,6%. Selain itu, instrumen ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar dana (outflow) sebesar Rp824,8 miliar ($46,6 juta) dan Rp2,12 triliun ($120,2 juta) dalam dua sesi berturut-turut, membuat total arus keluar mencapai Rp2,95 triliun ($166,8 juta).
Prospek Teknikal dan Konsolidasi Harga
Dari sudut pandang analisis teknikal, struktur pergerakan harga tetap menunjukkan indikasi pemulihan. Indikator Relative Strength Index (RSI) harian Bitcoin berada pada posisi 67, sementara garis Exponential Moving Average (EMA) 7-hari dan 21-hari berhasil melintas di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari untuk pertama kalinya sejak akhir tahun lalu.
Saat ini Bitcoin diperdagangkan pada kisaran Rp1,36 miliar ($76.882,80), bergerak di rentang harian antara Rp1,357 miliar ($76.670,90) hingga Rp1,41 miliar ($79.655,08). Pelaku pasar terus mencermati apakah penembusan di atas Rp1,416 miliar ($80.000) dapat memicu masuknya likuiditas baru untuk menguji zona kunci Rp1,52 miliar dalam rentang waktu mendatang.
