MacBook Pro 16 berbasis chip M5 Max diposisikan sebagai salah satu laptop paling bertenaga Apple untuk pekerjaan profesional. Namun, pengujian beban berat menunjukkan masalah yang cukup mengganggu: adaptor daya 140W bawaan tidak selalu mampu menyuplai kebutuhan energi perangkat ketika prosesor dan grafis bekerja maksimal.
Persoalannya bukan semata-mata kapasitas adaptor. MacBook Pro 16 ternyata membatasi daya masuk ke sekitar 150W, sehingga penggunaan adaptor USB-C 180W pun tidak memberikan solusi berarti. Dalam skenario tertentu, laptop tetap mengambil daya dari baterai meski sedang terhubung ke sumber listrik.
Chip M5 Max Tetap Menguras Baterai Saat Beban Berat
Dalam pengujian dengan beban CPU dan GPU secara bersamaan, M5 Max sempat menarik daya hingga sekitar 114W. Angka tersebut hanya mencakup konsumsi prosesor dan grafis, belum termasuk kebutuhan memori serta komponen lain di dalam laptop. Setelah beberapa saat, konsumsi chip turun dan stabil di sekitar 70W dalam mode High Power.
Jika seluruh konsumsi sistem ikut diperhitungkan, penggunaan daya maksimum MacBook Pro 16 tercatat sekitar 150W. Pada kondisi ini, adaptor 140W tidak memiliki ruang daya yang cukup untuk sekaligus menjalankan laptop dan mengisi baterai. Akibatnya, baterai dapat berkurang sekitar 12 persen hanya dalam satu jam.
Situasi ini memang muncul dalam skenario ekstrem, seperti proses rendering, kompilasi proyek besar, simulasi, atau pekerjaan grafis yang berlangsung terus-menerus. Pengguna dengan beban kerja ringan hingga menengah kemungkinan tidak akan merasakan masalah serupa. Namun, karakter tersebut tetap relevan bagi pembeli yang memilih varian M5 Max karena membutuhkan performa berkelanjutan.
Adaptor 180W Tidak Mengubah Batas Daya MacBook
Secara teori, mengganti adaptor 140W dengan model USB-C 180W dapat menyediakan cadangan daya lebih besar. Sayangnya, pengujian menunjukkan MacBook Pro 16 tetap tidak menerima daya lebih tinggi dari batas internalnya. Dengan kata lain, adaptor yang lebih kuat tidak dapat memaksa laptop bekerja pada konsumsi energi yang lebih besar.
Pembatasan ini membuat masalahnya berada pada desain sistem, bukan sekadar aksesori. Sistem manajemen daya MacBook tampaknya sengaja menjaga konsumsi maksimum tetap terkendali, kemungkinan untuk melindungi komponen, mengurangi panas, atau mempertahankan kestabilan. Apple belum memberikan alasan teknis yang menjelaskan mengapa batas tersebut diterapkan secara ketat.
Di sisi lain, chip M5 Max sendiri juga mengalami pembatasan performa akibat kemampuan pendinginan yang terbatas. Ketika laptop sudah mengurangi daya chip karena panas, tetapi tetap menguras baterai saat terhubung ke adaptor, efisiensi desainnya layak dipertanyakan.
Masalah Lama yang Menunjukkan Desain Mulai Tertinggal
Temuan ini bukan kejadian baru di lini MacBook Pro. MacBook Pro 14 sebelumnya juga menghadapi persoalan serupa ketika adaptor 96W tidak mencukupi, sementara adaptor Apple 140W pun tidak dapat mengatasi batas daya masuk perangkat. Pola yang sama kini terlihat pada model 16 inci dengan konfigurasi M5 Max yang jauh lebih mahal dan lebih bertenaga.
Bagi konsumen, adaptor seharusnya memiliki kapasitas yang cukup untuk menjalankan laptop sekaligus mengisi baterai, terutama pada perangkat profesional dengan harga puluhan juta rupiah. Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting di wilayah yang mewajibkan adaptor dijual terpisah, karena pembeli bisa saja mengeluarkan biaya tambahan tanpa memperoleh peningkatan kemampuan daya yang nyata.
Apple masih menawarkan kombinasi performa tinggi, ekosistem yang matang, dan daya tahan baterai baik dalam penggunaan umum. Namun, untuk pekerjaan berat yang berjalan berjam-jam, pengguna perlu memahami bahwa MacBook Pro 16 M5 Max dapat tetap kehilangan daya meski tersambung ke adaptor. Ini menjadi tanda bahwa rancangan pendinginan dan manajemen daya MacBook Pro belum banyak berubah, sementara tuntutan performa chip terus meningkat.



