ASUS memperluas lini Vivobook Pro 14 dengan konfigurasi baru berbasis AMD Ryzen AI 9 H 465. Laptop 14 inci ini menawarkan layar OLED 120Hz, RAM hingga 32GB, penyimpanan SSD hingga 1TB, serta klaim daya tahan baterai hingga 27 jam. Di China, model tersebut dipasarkan sebagai ASUS Fearless Ryzen Edition M5450.
Konfigurasi baru ini menyasar pengguna yang membutuhkan laptop ringkas untuk produktivitas serius, pembuatan konten, dan pekerjaan berbasis AI. Meski belum tersedia secara resmi di pasar internasional, spesifikasinya memperlihatkan persaingan laptop premium yang semakin berfokus pada performa tinggi dalam bodi ringan.
Ryzen AI 9 H 465 Jadi Pusat Performa
ASUS Vivobook Pro 14 menggunakan AMD Ryzen AI 9 H 465, prosesor berbasis arsitektur Zen 5 dengan 10 inti dan 20 thread. Chip ini memiliki kecepatan maksimum hingga 5,0 GHz serta grafis terintegrasi Radeon 880M. Dalam pemakaian sehari-hari, kombinasi tersebut dirancang untuk menangani multitasking, pengolahan foto, penyuntingan video ringan hingga menengah, dan aplikasi produktivitas yang membutuhkan banyak thread.
Keunggulan lain datang dari NPU XDNA dengan kemampuan hingga 50 TOPS. Sederhananya, komponen ini bertugas mempercepat sejumlah fitur kecerdasan buatan secara lokal, seperti efek kamera, pengolahan suara, dan fitur AI yang didukung aplikasi. Namun, angka TOPS bukan jaminan semua aplikasi AI otomatis lebih cepat karena hasil akhirnya tetap bergantung pada dukungan perangkat lunak.
Layar OLED 120Hz Menonjol untuk Kreator
Laptop ini mengusung panel OLED 14 inci dengan resolusi 2.880 x 1.800 piksel dan rasio aspek 16:10. Area vertikal yang lebih tinggi dibanding layar 16:9 membantu pengguna melihat lebih banyak baris dokumen, timeline video, atau halaman web tanpa terlalu sering menggulir.
ASUS mencantumkan cakupan warna 100 persen DCI-P3, waktu respons 0,2 milidetik, serta kecerahan puncak hingga 1.100 nits. Panel tersebut juga mendukung HDR dan memiliki sertifikasi DisplayHDR 1000. Refresh rate 120Hz membuat animasi antarmuka dan pergerakan objek terasa lebih mulus, meski penggunaan mode ini kemungkinan dapat memengaruhi konsumsi baterai dibanding refresh rate yang lebih rendah.
Bodi Ringkas, Pendingin Disiapkan untuk Beban Berat
Dengan ketebalan 17,9 mm dan bobot sekitar 1,39 kg, Vivobook Pro 14 relatif mudah dibawa dibanding laptop performa berlayar besar. ASUS membekalinya dengan baterai 80Wh dan sistem pendingin IceCool Pro yang terdiri dari kipas 75 mm, heat pipe, serta sirip pendingin berbahan tembaga.
Sistem tersebut memungkinkan laptop bekerja hingga 80W dalam mode performa tinggi. ASUS mengklaim baterainya dapat bertahan hingga 27 jam dan mampu terisi 50 persen dalam 30 menit. Klaim daya tahan tersebut tetap perlu dibaca sebagai angka pengujian internal, karena penggunaan layar OLED 120Hz, aplikasi berat, dan mode performa tinggi dapat menghasilkan durasi yang lebih pendek.
Dari sisi konektivitas, tersedia dua USB-A 3.2, satu USB4 Type-C, satu USB-C 3.2, HDMI 2.1, dan jack audio 3,5 mm. Kedua port USB-C mendukung Power Delivery. Laptop ini juga memiliki dua slot M.2 2280 dan mendukung kapasitas penyimpanan hingga 4TB, sehingga pengguna memiliki ruang peningkatan yang cukup fleksibel.
Harga China dan Potensi Posisi di Pasar
ASUS menjual Vivobook Pro 14 Ryzen Edition dengan RAM 16GB dan SSD 512GB seharga 7.499 Yuan, setara sekitar Rp16,9 jutaan berdasarkan kurs praktis. Harga tersebut sekitar Rp675 ribuan lebih murah dibanding konfigurasi Intel 16GB dan 512GB yang menggunakan Core Ultra 7 356H. ASUS juga menawarkan varian RAM 32GB dan penyimpanan 1TB, tetapi harga versi ini belum disebutkan.
Dibandingkan Vivobook Pro 16 dengan prosesor yang sama, model 14 inci lebih ringan sekitar 260 gram. Model 16 inci memiliki layar OLED 2.5K 165Hz dan dibanderol sekitar Rp17,3 jutaan untuk konfigurasi 16GB/512GB. Bagi pengguna yang mengutamakan mobilitas, layar 14 inci dan bobot 1,39 kg terasa lebih masuk akal. Sebaliknya, kreator yang membutuhkan ruang kerja lebih luas mungkin lebih cocok dengan varian 16 inci.
ASUS Vivobook Pro 14 Ryzen Edition terlihat menarik karena menggabungkan performa Zen 5, kemampuan AI lokal, layar OLED berkualitas tinggi, dan opsi upgrade SSD dalam bodi portabel. Kekurangannya, harga Indonesia dan ketersediaan global belum dikonfirmasi, sementara klaim baterai 27 jam belum bisa dianggap sebagai hasil penggunaan nyata. Jika masuk Indonesia dengan harga mendekati estimasi, laptop ini berpotensi menjadi pilihan kuat bagi pekerja kreatif dan profesional yang menginginkan performa tinggi tanpa membawa perangkat besar.