Debat mengenai kepemilikan game digital kembali memanas di panggung politik Amerika Serikat. Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Ritchie Torres, resmi mengusulkan rancangan undang-undang bernama Power To The Players Act untuk memberikan hak kepemilikan yang nyata kepada konsumen atas game digital yang mereka beli.
Selama ini, pembelian game digital sering kali hanya dianggap sebagai hak sewa berlisensi yang bisa dicabut sewaktu-waktu oleh penerbit. Melalui regulasi baru ini, konsumen diharapkan benar-benar memiliki game mereka selamanya dan bebas memindahkannya ke orang lain. Regulasi ini langsung memicu perdebatan luas di industri gaming global.
Pemicu Utama RUU: Kasus Penghapusan Game NBA 2K25
Inisiatif ini bermula dari keresahan atas kebijakan penarikan game populer seperti NBA 2K25. Game bola basket tersebut dijadwalkan lenyap dari toko digital pada 30 Oktober 2026, disusul penutupan server online sehari setelahnya. Tindakan ini membuat sebagian besar fitur permainan tidak bisa diakses lagi oleh pembeli.
Ritchie Torres menilai situasi tersebut sangat merugikan konsumen. Terlebih lagi, harga edisi standar game tersebut dibanderol sekitar Rp1,4 jutaan (€70) saat pertama kali dirilis ke pasaran. Pembelian dengan harga tinggi seharusnya memberi hak permanen, bukan sekadar akses sementara.
Poin Utama Regulasi dan Tantangan Teknis
Power To The Players Act dirancang untuk mengubah total cara kerja distribusi game digital. Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) nantinya akan ditugaskan menyusun aturan perlindungan konsumen yang mewajibkan penerbit memberikan hak kepemilikan permanen.
Beberapa poin krusial dalam RUU tersebut mencakup kewajiban agar game tetap bisa dimainkan secara offline meskipun server online sudah ditutup. Selain itu, konsumen juga berhak menjual kembali atau mentransfer game digital yang sudah dibeli kepada pengguna lain layaknya kaset fisik.
Kendati demikian, penerapan aturan ini menghadapi jalan terjal. Game multiplayer online berbasis server akan kesulitan berjalan tanpa koneksi internet, memaksa developer merombak sistem atau menyediakan opsi server mandiri. Di sisi lain, platform distribusi seperti Steam atau Epic Games harus merancang sistem transfer lisensi yang rumit.
Respon Industri dan Skeptisisme Gamer
Penerbit besar seperti Electronic Arts dan Ubisoft diprediksi akan menentang keras aturan ini karena berpotensi merusak pendapatan mereka dari pasar digital. Sebagai respons, industri game dikhawatirkan akan semakin gencar mendorong model langganan berbasis sewa.
Di kalangan komunitas, tanggapan yang muncul terbelah antara antusiasme dan keraguan. Gamer menyambut baik wacana kepemilikan digital yang lebih adil, namun banyak yang meragukan RUU ini bakal disahkan mengingat kuatnya lobi industri game.



