Pasar konsol PC genggam (gaming handheld) kembali dikejutkan oleh pengumuman harga resmi perangkat terbaru besutan GPD, yakni Win Max 3. Mengusung prosesor gahar AMD Ryzen Strix Halo yang dirancang untuk performa grafis setara laptop gaming kelas atas, gawai ini dibanderol dengan harga awal yang fantastis, yakni mulai dari Rp28 jutaan ($1.750). Sontak, banderol ini memicu perdebatan hangat di kalangan penggiat gim mengenai rasionalitas harganya.
Menanggapi kebingungan publik, pihak GPD meluncurkan pernyataan resmi untuk menjelaskan alasan di balik penetapan harga tinggi tersebut. Produsen UMPC asal Tiongkok ini menegaskan bahwa angka tersebut adalah penawaran paling realistis yang bisa mereka berikan di tengah krisis melonjaknya harga komponen global yang dipicu oleh maraknya pembangunan pusat data AI.
Krisis Komponen Global dan Dampak Dominasi Pusat Data
Dalam keterangannya, GPD menjelaskan bahwa tren investasi masif pada pusat data AI global telah menyedot pasokan komponen krusial, terutama memori RAM berkecepatan tinggi dan penyimpanan SSD. Kelangkaan pasokan ini mendongkrak biaya produksi secara drastis bagi produsen perangkat keras konsumen. Sebagai pabrikan berskala menengah di segmen pasar UMPC yang segmented, GPD mengaku tidak memiliki posisi tawar sekuat raksasa teknologi untuk menekan biaya pasokan komponen.
Varian dasar GPD Win Max 3 yang dijual seharga Rp28 jutaan ($1.750) dibekali APU AMD Ryzen AI Max+ 388, RAM 32 GB, dan SSD 1 TB. Jika pengguna menginginkan varian RAM 64 GB dan penyimpanan 2 TB, harganya melonjak menjadi sekitar Rp35,9 jutaan ($2.246). Sementara itu, model tertinggi dengan APU Ryzen AI Max+ 395 monster, RAM 128 GB, serta SSD 2 TB menyentuh angka yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp55,9 jutaan ($3.499).
Spesifikasi Kelas Atas yang Memasuki Wilayah Laptop Flagship
Terlepas dari harganya yang fantastis, GPD Win Max 3 bukanlah konsol genggam biasa seperti Nintendo Switch atau Steam Deck. Perangkat ini menggabungkan konsep UMPC (Ultra-Mobile PC) dengan fleksibilitas laptop mini. GPD membekali gawai ini dengan layar AMOLED berukuran 9,06 inci yang mendukung refresh rate tinggi 165 Hz, memberikan visual permainan yang sangat halus dan kontras warna yang pekat.
Selain itu, Win Max 3 menyertakan papan ketik fisik terintegrasi serta baterai yang dapat dilepas pasang secara independen, sebuah fitur yang kini kian langka di industri konsol portabel. Kekuatan utama dari lini Strix Halo terletak pada integrated GPU (iGPU) berbasis RDNA 3.5 yang diklaim mampu menandingi kemampuan kartu grafis diskrit laptop gaming menengah hingga atas.
Perbandingan Kompetitor dan Realitas Pasar Handheld
Jika dibandingkan dengan kompetitor terdekatnya yang juga mengadopsi chip AMD Strix Halo, penawaran GPD justru tergolong lebih masuk akal. Sebagai gambaran, OneXPlayer X2 Mini Pro yang menggunakan chip Ryzen AI Max+ 388 dengan RAM 48 GB dan SSD 1 TB dijual seharga Rp39,9 jutaan ($2.499). Sementara itu, Ayaneo Next 2 dilepas mulai Rp28,7 jutaan ($1.799), namun hanya menyertakan varian prosesor Ryzen AI Max+ 385 yang spesifikasinya berada di bawah varian milik GPD.
Melihat kondisi pasar saat ini di mana belanja modal pusat data belum menunjukkan tanda-tanda melambat, konsumen tampaknya harus menerima kenyataan bahwa harga perangkat PC handheld bertenaga tinggi akan tetap berada di tingkatan premium untuk jangka waktu yang cukup lama. Bagi gamer yang menginginkan performa maksimal dalam wujud ultra-portabel, kompromi harga menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
