Tensor G6 menjadi otak baru seri Google Pixel 11 dengan fokus pada AI di perangkat, fotografi komputasional, dan efisiensi daya melalui fabrikasi 3nm. Namun, dalam pengujian awal, performanya masih tertinggal dari Snapdragon 8 Elite. Harga ponsel Tensor G6 di Indonesia belum diumumkan, sehingga calon pembeli perlu melihat kebutuhan pemakaian, bukan sekadar nama generasi.
Perbandingan ini menggunakan Pixel 11 Pro XL bertenaga Tensor G6 dan Galaxy S25 Plus dengan Snapdragon 8 Elite. Hasilnya memperlihatkan dua filosofi desain yang berbeda: Google mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk AI dan kamera, sementara Qualcomm mengejar performa mentah, grafis, serta kestabilan kinerja saat beban berat.
Benchmark CPU: Snapdragon 8 Elite Masih Memimpin
Di Geekbench 6, Tensor G6 mencatat 2.671 poin single-core dan 6.802 poin multi-core. Snapdragon 8 Elite memperoleh 3.008 poin single-core dan 9.730 poin multi-core. Artinya, chip Qualcomm unggul sekitar 12 persen pada pengujian single-core, tetapi jaraknya melebar menjadi sekitar 43 persen dalam pekerjaan multi-core.
Perbedaan ini akan terasa ketika ponsel digunakan untuk mengedit video, memproses data besar, menjalankan banyak aplikasi sekaligus, atau melakukan pekerjaan produktivitas berat. Tensor G6 tetap membawa peningkatan dibanding generasi sebelumnya, termasuk klaim penjelajahan web 20 persen lebih cepat dan pembukaan aplikasi 15 persen lebih singkat dibanding Tensor G5.
Performa Grafis Menjadi Titik Lemah Tensor G6
AnTuTu 11 semakin memperjelas keunggulan Snapdragon 8 Elite. Tensor G6 meraih skor total 1.857.406, sedangkan Snapdragon 8 Elite mencapai 3.162.650. Kesenjangan terbesar terlihat pada pengujian GPU: 432.908 poin untuk Tensor G6 berbanding 1.200.291 poin pada Snapdragon 8 Elite, atau sekitar 177 persen lebih tinggi.
Dalam 3DMark Wild Life Extreme Stress Test, Tensor G6 mencetak skor 3.386 dengan rata-rata 20,31 frame per detik. Snapdragon 8 Elite meraih 6.612 poin dan rata-rata 39,48 frame per detik. Pengujian ini juga mengukur kemampuan perangkat mempertahankan performa grafis serta mengelola panas dalam sesi panjang, sehingga lebih relevan bagi gamer dibanding skor sintetis biasa.
Tensor G6 Menukar Performa Mentah dengan AI
Tensor G6 menggunakan CPU tujuh inti berbasis ARM C1-Ultra dan C1-Pro, berbeda dari konfigurasi delapan inti pada generasi Tensor sebelumnya. Jumlah inti yang lebih sedikit bukan otomatis berarti lebih buruk karena desain baru tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi. Google juga memasangkan TPU Tensor generasi kelima untuk mempercepat fitur Gemini Nano dan pemrosesan AI tanpa selalu mengirim data ke cloud.
Di sisi kamera, Tensor G6 mendukung sensor tunggal hingga 200 megapiksel, perekaman video hingga 8K pada 30 frame per detik, video potret 4K, serta fitur seperti segmentasi semantik secara real-time dan Pro Zoom hingga 120 kali. Snapdragon 8 Elite lebih unggul di atas kertas dalam dukungan sensor hingga 320 megapiksel dan perekaman 8K hingga 60 frame per detik, tetapi hasil foto tetap bergantung pada sensor, perangkat lunak, dan tuning masing-masing produsen.
Pilihan untuk AI atau Gaming, Bukan Sekadar Angka
Snapdragon 8 Elite adalah pilihan yang lebih masuk akal bagi pengguna yang mengutamakan gaming berat, emulator, editing, dan performa tinggi yang konsisten. Chip ini menggunakan inti Oryon kustom dengan kecepatan clock lebih tinggi, GPU Adreno dengan dukungan ray tracing, serta memori LPDDR5X hingga 5,3 GHz.
Tensor G6 lebih cocok bagi pengguna Pixel yang menghargai fitur AI personal, Live Translate, Magic Eraser, pemrosesan foto otomatis, dan konsumsi daya yang lebih terkontrol. Konektivitas keduanya sudah modern dengan Wi-Fi 7 dan Bluetooth 6.0, sementara Tensor G6 diklaim memiliki kecepatan unduh 5G maksimum hingga 12 Gbps, sedikit di atas klaim 10 Gbps pada Snapdragon 8 Elite. Karena harga resmi ponsel Pixel 11 belum tersedia, keputusan pembelian sebaiknya menunggu banderol lokal dan pengujian daya tahan nyata.
