Poco M8 Power mengambil pendekatan yang sangat jelas: bukan mengejar skor benchmark atau kamera kelas atas, melainkan memasang baterai silikon-karbon 8.000 mAh di dalam bodi yang masih relatif ramping. Hasilnya adalah ponsel dengan daya tahan luar biasa dan layar AMOLED besar, tetapi performa, kamera, serta kecepatan pengisian dayanya menjadi kompromi penting.
Di kelas harga di bawah sekitar Rp4,75 jutaan (25.000 rupee), strategi ini cukup menarik karena kebutuhan pengguna tidak selalu sama. Bagi pekerja lapangan, pelancong, atau pengguna yang sering jauh dari colokan, kapasitas baterai bisa lebih berguna daripada chipset kencang. Namun, calon pembeli tetap perlu memahami bahwa Poco M8 Power bukan ponsel serba bisa.
Desain Besar, Kokoh, tetapi Tidak Ringan
Varian Blaze Orange membuat Poco M8 Power tampil lebih berani dibandingkan banyak ponsel murah lain. Panel belakang dan bingkainya memang masih menggunakan plastik, tetapi kualitas rakitannya tidak terasa murahan. Permukaan matte juga membantu mengurangi noda sidik jari, sementara modul kamera besar di belakang memberi identitas visual yang cukup kuat.
Dengan ketebalan 8,45 milimeter dan bobot 225 gram, ponsel ini jelas terasa besar. Distribusi bobotnya cukup baik sehingga tidak terlalu berat di bagian atas, tetapi penggunaan satu tangan dalam waktu lama tetap melelahkan. Bingkai datar membantu cengkeraman, sedangkan perlindungan Gorilla Glass 7i dan sertifikasi IP65 memberi ketenangan ekstra terhadap debu serta percikan air.
Layar AMOLED Menjadi Keunggulan Besar Kedua
Poco membekali M8 Power dengan panel AMOLED FHD+ berukuran 6,99 inci dan refresh rate 120Hz. Kombinasi ini membuat scrolling terasa mulus, warna tampak lebih hidup, dan area layar yang luas cocok untuk menonton video, membaca, maupun membuka dua aplikasi secara bergantian.
Kecerahan puncaknya mencapai 1.800 nits sehingga visibilitas di luar ruangan tergolong baik. Fitur lain seperti cakupan DCI-P3, Wet Touch 2.0, Sunlight Display, sertifikasi perawatan mata, serta PWM dimming 960Hz menambah kenyamanan. Pengguna yang sensitif terhadap kedipan PWM juga dapat memanfaatkan opsi DC dimming. Kekurangannya, layar belum mendukung HDR dan kemampuan chipset membatasi pemutaran video di bawah resolusi 4K.
Pengalaman multimedia sedikit turun karena hanya ada satu speaker di bagian bawah. Volumenya cukup keras untuk penggunaan harian, tetapi tidak menawarkan separasi stereo saat bermain gim atau menonton film. Widevine L1 tetap tersedia, sehingga layanan seperti Netflix dan Prime Video dapat diputar dalam Full HD.
Performa Cukup untuk Harian, Baterai Sangat Kuat
Snapdragon 4 Gen 4 adalah chipset entry-level yang dirancang untuk kebutuhan dasar. Pesan instan, media sosial, browsing, streaming, dan aplikasi produktivitas dapat berjalan tanpa masalah besar. Namun, sesekali terlihat jeda atau patahan animasi, sementara multitasking berat bisa membuat aplikasi dan tab peramban dimuat ulang meski RAM yang tersedia mencapai 8 GB.
Untuk gaming, ekspektasinya perlu realistis. Gim ringan berjalan nyaman, sedangkan BGMI dan Call of Duty: Mobile lebih cocok dimainkan pada pengaturan grafis rendah. Genshin Impact berada di luar zona nyaman perangkat ini. Sistem pendingin grafit seluas 10.416 milimeter persegi membantu menjaga suhu tetap terkendali, tetapi tidak mengubah karakter M8 Power sebagai ponsel yang mengutamakan efisiensi, bukan performa.
Baterai 8.000 mAh adalah alasan utama membeli perangkat ini. Pemakaian berat dapat melewati satu hari penuh, sedangkan penggunaan ringan berpotensi mencapai dua hari atau lebih. Screen-on time sekitar 8 hingga 10 jam pada penggunaan campuran tergolong kuat. Sayangnya, pengisian 45W membutuhkan sekitar dua jam untuk penuh. Dukungan reverse charging kabel 22,5W tetap berguna ketika ponsel difungsikan sebagai power bank.
Kamera Biasa, Software Panjang, dan Kesimpulan Nilai
Kamera belakang 50 MP menghasilkan foto yang layak pada siang hari, dengan warna dan rentang dinamis yang cukup untuk media sosial. Namun, pemrosesan gambar belum selalu konsisten. Pada malam hari, detail mudah melunak, noise meningkat, dan eksposur dapat berubah-ubah. Kamera depan 8 MP juga lebih cocok untuk panggilan video serta swafoto kasual daripada kebutuhan kreator.
Kedua kamera hanya mampu merekam video hingga 1080p pada 30fps. Ketiadaan OIS membuat stabilisasi tidak istimewa, terutama saat merekam sambil berjalan. Di sisi software, Android 16 dengan HyperOS 3 menjadi nilai tambah karena Poco menjanjikan empat tahun pembaruan sistem operasi dan enam tahun pembaruan keamanan. Fitur AI, Circle to Search, Gemini, HyperIsland, Mi Remote, serta integrasi ekosistem Xiaomi tersedia, meski bloatware dan rekomendasi aplikasi saat setup cukup mengganggu.
Poco M8 Power layak dipertimbangkan bagi pengguna yang memprioritaskan baterai besar, layar luas, dan dukungan software jangka panjang. Sebaliknya, gamer serius, penggemar fotografi, dan pencinta audio stereo sebaiknya mencari ponsel lain. Nilainya kuat untuk kebutuhan mobilitas, tetapi kapasitas baterai saja tidak cukup menjadikannya ponsel terbaik di semua aspek.