Sebuah kabar mengejutkan datang dari pasar gelap Tiongkok, di mana purwarupa (engineering sample) dari chipset flagship masa depan MediaTek kabarnya telah bocor dan dijual bebas. Chipset yang diduga kuat sebagai Dimensity 9600 Pro tersebut ditawarkan dengan harga yang sangat murah, memicu kehebohan di kalangan antusias teknologi dan pemerhati industri semikonduktor global.
Penjual di platform barang bekas Xianyu mendaftarkan komponen mentah ini sebagai stok sisa pembongkaran yang tidak terenkripsi. Fenomena ini tidak hanya mengungkap keberadaan silikon generasi terbaru MediaTek lebih awal, tetapi juga memberikan gambaran menarik mengenai peta persaingan performa dan efisiensi biaya produksi melawan Qualcomm di masa mendatang.
Bocoran Detail Chipset Misterius MT6995Z
Penjual misterius bernama Jefull—yang sebelumnya juga sempat membocorkan sampel awal chipset Snapdragon generasi berikutnya—mengunggah daftar produk berupa paket bola grid (BGA) dalam kantong tersegel. Di dalam kantong tersebut, terdapat dua nomor model yang ditulis tangan, yaitu MT6993Z yang dikonfirmasi sebagai Dimensity 9500, serta MT6995Z yang diduga kuat merupakan identitas dari Dimensity 9600 Pro.
Chipset mentah ini dibanderol dengan harga yang sangat miring, yakni sekitar Rp450 ribuan (sekitar 200 Yuan atau $30) per unit. Meskipun daftar penjualan tersebut kini telah dihapus dari platform, foto-foto detail sasis chip yang sempat beredar menunjukkan bahwa MediaTek tampaknya mulai mengubah skema enkripsi penulisan pada permukaan silikonnya guna mempersulit pelacakan internal.
Implikasi Ukuran Die dan Tantangan Biaya Produksi
Dari analisis fisik kemasan chip, Dimensity 9600 Pro tampak memiliki dimensi fisik yang serupa dengan pendahulunya, Dimensity 9500, dengan estimasi ukuran die sekitar 140 mm². Sebagai perbandingan, rival utamanya dari Qualcomm dirumorkan memiliki ukuran die yang sedikit lebih ringkas, yakni sekitar 134 mm². Selisih ukuran yang semakin tipis ini mengindikasikan bahwa persaingan arsitektur internal kedua raksasa ini akan semakin sengit.
Namun, ukuran die yang lebih besar bagi MediaTek berarti biaya produksi (Bill of Materials/BOM) yang berpotensi lebih tinggi. Demi mempertahankan daya saing di pasar ponsel flagship, MediaTek kemungkinan besar harus rela memotong margin keuntungan mereka agar dapat menawarkan harga chipset yang lebih murah kepada para produsen ponsel pintar (OEM) dibandingkan dengan harga pasaran Snapdragon.
Desain Kemasan Tradisional dan Potensi Isu Suhu
Aspek teknis lain yang berhasil diidentifikasi dari bocoran ini adalah penggunaan desain kemasan FCPoP (Flip-Chip Package-on-Package) tradisional, serupa dengan generasi sebelumnya. Pendekatan ini berbeda dengan kompetitornya yang dikabarkan sedang beralih ke teknologi pengemasan yang jauh lebih optimal dalam menyebarkan panas secara merata.
Bagi konsumen akhir, hal ini menjadi poin krusial yang patut dicermati. Penggunaan kemasan tradisional pada chipset berperforma tinggi menuntut sistem pendinginan (cooling system) yang jauh lebih agresif dari para produsen smartphone. Jika tidak diimbangi dengan vapor chamber yang mumpuni, ponsel pintar yang ditenagai oleh Dimensity 9600 Pro di masa depan berisiko mengalami thermal throttling saat digunakan untuk aktivitas berat seperti gaming intensif.



