HP baru saja meluncurkan laptop workstation kelas berat terbarunya, HP ZBook Fury G1i 16, untuk pasar global. Laptop ini dirancang khusus bagi para profesional kreatif, insinyur, dan ilmuwan data yang membutuhkan performa komputasi ekstrem di luar batas laptop standar. Menariknya, perangkat monster ini menjanjikan dukungan RAM hingga 192 GB dan prosesor generasi terbaru Intel Arrow Lake HX Plus.
Namun, di balik spesifikasi di atas kertas yang tampak sangat menggiurkan, ada sebuah paradoks menarik yang perlu dicermati oleh para calon pembeli. HP meluncurkan laptop ini dengan strategi konfigurasi awal yang cukup membingungkan, yang justru membuat performa varian pertamanya saat ini berada di bawah generasi pendahulunya.
Paradoks Performa Intel Arrow Lake HX Plus di Seri Awal
Di atas kertas, HP ZBook Fury G1i 16 diproyeksikan untuk ditenagai oleh prosesor monster Intel Core Ultra 9 290HX Plus. Prosesor ini memiliki konfigurasi 24-core yang terdiri dari 8 P-core (Performance) dan 16 E-core (Efficiency). Berdasarkan data benchmark internal, cip flagship ini menjanjikan peningkatan performa CPU hingga 10 persen lebih tinggi dibandingkan dengan seri pendahulunya, Core Ultra 9 285HX.
Masalahnya, saat peluncuran perdana ini, HP belum menyediakan varian dengan Core Ultra 9 290HX Plus tersebut. Pabrikan asal Amerika Serikat ini justru membatasi konfigurasi awal ZBook Fury G1i 16 dengan opsi prosesor yang lebih rendah, yaitu Intel Core Ultra 7 270HX Plus. Akibatnya, laptop workstation generasi terbaru ini untuk sementara waktu justru memiliki performa yang lebih lambat dibandingkan model lama yang menggunakan prosesor Core Ultra 9 275HX atau Core Ultra 9 285HX.
Spesifikasi Monster dan Dukungan GPU Blackwell
Terlepas dari keanehan pada sektor CPU di awal perilisannya, ZBook Fury G1i 16 tetap mengusung DNA workstation sejati. Salah satu nilai jual utamanya adalah kapasitas RAM yang luar biasa masif, yang dapat dikonfigurasi hingga mencapai 192 GB. Kapasitas sebesar ini sangat krusial untuk menjalankan simulasi 3D yang kompleks, rendering video resolusi ultra-tinggi, hingga pelatihan model kecerdasan buatan (AI) skala lokal.
Di sektor grafis, HP menyematkan lini GPU profesional terbaru dari Nvidia yang berbasis arsitektur Blackwell. Varian standar dilengkapi dengan Nvidia RTX Pro 1000 Blackwell dengan VRAM 8 GB. Bagi pengguna yang membutuhkan kekuatan pemrosesan grafis lebih tinggi untuk komputasi visual berat, HP juga menyediakan opsi upgrade ke RTX Pro 2000 dengan VRAM 8 GB serta varian tertinggi RTX Pro 3000 yang mengusung VRAM sebesar 12 GB.
Harga Fantastis untuk Segmen Korporat
Sebagai laptop kelas enterprise yang ditargetkan untuk korporasi dan profesional dengan anggaran besar, harga yang ditawarkan HP untuk ZBook Fury G1i 16 tentu tidak murah. Varian paling dasar yang dilengkapi RAM 32 GB, penyimpanan SSD 1 TB, dan GPU Nvidia RTX Pro 1000 Blackwell dibanderol mulai kisaran Rp117,9 jutaan ($7,374).
Jika Anda membutuhkan kartu grafis yang lebih bertenaga, varian dengan GPU RTX Pro 2000 dijual dengan harga sekitar Rp122,8 jutaan ($7,679). Sementara itu, kasta tertinggi saat ini yang menggunakan GPU RTX Pro 3000 dipatok dengan harga fantastis mencapai kisaran Rp138,1 jutaan ($8,634). Mengingat harganya yang setara dengan mobil bekas berkualitas, laptop ini jelas bukan ditujukan untuk konsumen umum, melainkan investasi bisnis jangka panjang bagi industri kreatif dan teknologi global.


