Nintendo secara resmi mengungkap proyek rekayasa ulang dari gim legendaris mereka melalui ajang Nintendo 40th Anniversary Zelda Direct, yaitu The Legend of Zelda: Ocarina of Time Remake khusus untuk konsol penerus, Nintendo Switch 2. Gim ikonik yang pertama kali meluncur di era Nintendo 64 ini dikonfirmasi bukan sekadar porting atau peningkatan resolusi biasa, melainkan sebuah reka ulang menyeluruh yang mengusung konsep dunia open world seamless tanpa layar pemuatan. Versi digital gim ini diperkirakan dibanderol mulai Rp1,06 jutaan ($59.99), sementara edisi fisik rekor dipatok sekitar Rp1,23 jutaan ($70).
Langkah berani Nintendo ini menjawab spekulasi publik selama bertahun-tahun mengenai bagaimana gim klasik dapat diadaptasi ke era konsol modern. Penggarapan proyek ambisius ini turut melibatkan studio kenamaan Monolith Soft, yang dikenal lewat kepiawaian mereka merancang peta dunia luas dalam seri Xenoblade Chronicles. Kehadiran remake ini diproyeksikan menjadi judul utama (flagship title) yang siap mendongkrak penjualan konsol Nintendo Switch 2 pada musim liburan mendatang.
Transisi Menuju Dunia Open World Seamless dan Ekosistem Hidup
Dalam tayangan cuplikan gameplay berdurasi lima menit, Nintendo memamerkan transformasi besar dari lanskap Kerajaan Hyrule. Jika versi orisinal tahun 1998 terbagi dalam beberapa area terpisah yang dibatasi oleh layar pemuatan, versi Switch 2 ini menyajikan eksplorasi tanpa henti. Karakter utama, Link, diperlihatkan menunggangi Epona secara langsung dari area Hyrule Field menuju Castle Town tanpa interupsi transisi sama sekali.
Skala geografis Kerajaan Hyrule kini menjembatani kepadatan desain klasik era Nintendo 64 dengan kemegahan peta modern ala Breath of the Wild. Dunia gim dibangun lebih padat dengan populasi karakter non-pemain (NPC) yang lebih interaktif serta didukung oleh sistem cuaca dinamis yang memengaruhi lingkungan sekitar secara real-time.
Sistem Pertarungan Modern dan Perombakan Dungeon Ikonik
Peningkatan tidak hanya terjadi pada sektor visual dan ukuran peta, tetapi juga merambah mekanik pertarungan. Kendati fitur pendukung seperti sistem kunci target Z-targeting tetap dipertahankan demi menjaga identitas orisinalnya, kendali pertarungan kini dirancang lebih responsif dan cepat ala gim aksi orang ketiga modern. Pemain kini dapat melakukan tangkisan (parry), pergerakan menghindar yang dinamis, hingga mengganti perlengkapan secara instan tanpa perlu membuka menu secara kaku.
Perubahan paling fundamental terlihat pada perombakan struktur dungeon. Pihak pengembang memperlihatkan sekilas area Water Temple yang legendaris, di mana labirin kunci-dan-pintu tradisional telah digantikan oleh ruang multilayer berbasis simulasi fisika interaktif. Produser serial Zelda, Eiji Aonuma, menegaskan bahwa walau alur cerita utama dan melodi musik ikonik tetap dipertahankan dengan setia, seluruh teka-teki dan pertarungan bos dirancang ulang dari nol guna memanfaatkan daya pemrosesan hardware Switch 2 secara optimal.
Jadwal Rilis, Edisi Kolektor, dan Bundel Hardware Switch 2
Nintendo menutup sesi presentasi dengan mengonfirmasi jadwal ketersediaan resmi gawai dan gim tersebut di pasaran. The Legend of Zelda: Ocarina of Time Remake dijadwalkan rilis secara serentak di seluruh dunia pada 12 November 2026.
Selain versi standar digital seharga Rp1,06 jutaan ($59.99) dan versi fisik Rp1,23 jutaan ($70), Nintendo juga menyiapkan Collector's Edition khusus bagi para pengoleksi. Perilisan gim ini turut didampingi oleh peluncuran bundel konsol edisi khusus Nintendo Switch 2 yang dilengkapi dengan pengontrol Pro Controller berbalut skema warna khas hijau dan emas eksklusif.



