Game eksklusif PlayStation 4 besutan Ready at Dawn, The Order: 1886, kini resmi menyambangi platform PC melalui proyek port native tak resmi yang digarap oleh komunitas pengembang independen. Tanpa campur tangan Sony maupun pengembang aslinya, proyek ini berhasil menjalankan berkas executable bawaan konsol secara langsung di sistem operasi Windows tanpa perlu emulasi prosesor. Langkah ini menjadi angin segar bagi para pencinta game era PS4 yang mendambakan pengalaman bermain di resolusi tinggi dan frame rate lebih mulus.
Meskipun masih berada pada tahap awal pengembangan, port PC ini menawarkan peningkatan signifikan dibanding versi konsol tahun 2015. Pengguna kini bisa menikmati frame rate hingga 60 FPS serta pilihan rasio layar modern seperti 16:9 dan 21:9 yang menghapus bar hitam di atas dan bawah layar. Proyek ini melanjutkan kesuksesan porting independen sebelumnya seperti Bloodborne dan God of War III Remastered, serta proyek serupa pada Uncharted: The Nathan Drake Collection.
Cara Kerja Port Native Tanpa Emulasi CPU
Pendekatan teknis yang digunakan komunitas pengembang cukup unik. Berbeda dengan emulator penuh, proyek ini memanfaatkan arsitektur x86-64 pada prosesor PS4 yang serupa dengan PC modern. Berkas executable asli game dijalankan secara langsung di atas CPU PC. Runtime khusus diciptakan untuk menggantikan pustaka sistem (system libraries) milik PlayStation 4. Tanpa emulasi CPU.
Namun, urusan pemrosesan grafis tetap membutuhkan penerjemahan perintah. Komunitas memanfaatkan inti pemrosesan video dari emulator ShadPS4 untuk menerjemahkan instruksi GPU dan shader PS4 ke dalam API Vulkan. Untuk dapat menjalankan port ini, pengguna diwajibkan menyediakan berkas game dump dari salinan fisik atau digital milik sendiri. Pengembang tidak menyertakan berkas game apa pun dalam paket distribusi. Kebutuhan sistem minimal mencakup Windows 10 atau 11 64-bit, prosesor yang mendukung instruksi AVX, serta kartu grafis yang mendukung Vulkan 1.3.
Performa 60 FPS dan Dukungan Layar Lebar
Versi orisinal The Order: 1886 di PS4 terkunci pada angka 30 FPS dengan format cinematic 2.40:1 yang menghadirkan bar hitam tebal di bagian atas dan bawah. Lewat patch eksperimental di PC, pembatas frame rate berhasil dibuka. Pengujian awal pada laptop bermesin GPU Nvidia GeForce RTX 5060 mencatatkan rata-rata 57 FPS di area prolog. Sementara itu, kombinasi GPU RTX 5070 dan prosesor Intel Core i5-14600K mampu mempertahankan angka 60 FPS secara stabil.
Meskipun demikian, performa pada kartu grafis AMD Radeon menunjukkan hasil yang belum seimbang. Pada Radeon RX 6700 XT, game mampu bertahan di 30 FPS pada sebagian besar adegan, namun mengalami penurunan hingga kisaran 20-an FPS saat memasuki lokasi terbuka yang kompleks.
Sektor kontrol dan visual juga mendapat perombakan yang signifikan. Pemain kini bisa menggunakan kibor dan mouse, atau memilih controller seperti DualSense dan Xbox. Kontroler tetap pilihan terbaik. Pasalnya, pemetaan tombol untuk kibor masih terbilang kasar. Selain itu, patch rasio layar opsional 16:9, 16:10, dan 21:9 meluaskan area pandang vertikal tanpa memotong bagian samping adegan.
Tantangan Teknis dan Kendala Bug yang Masih Ada
Sebagai proyek awal, potensi masalah teknis masih mengintai para pemain. Pengembang utama belum melakukan verifikasi permainan penuh di luar babak prolog, fitur penyimpanan (save/load), tata suara, serta kompatibilitas penuh kartu grafis AMD dan Intel. Beberapa laporan pengguna menyebutkan munculnya artefak visual, tekstur yang hilang, serta kemacetan singkat (stuttering) saat memuat area baru.
Kendala stabilitas juga patut diwaspadai. Penurunan performa mendadak dan crash masih kerap terjadi di lokasi tertentu. Target mencapai resolusi 4K 60 FPS secara stabil pun belum berhasil diwujudkan. Bahkan, opsi 60 FPS diketahui berisiko memicu bug softlock pada aksi merespons cepat (quick-time event) di dua babak cerita. Belum ada kepastian apakah game ini bisa ditamatkan dari awal hingga akhir tanpa kendala serius.