Activision membawa perang melawan pembuat cheat Call of Duty ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam sebuah langkah spektakuler yang menghebohkan komunitas gim, penerbit gim raksasa ini mengirimkan perwakilan hukumnya langsung ke rumah seorang penjual cheat kawakan bernama Elocarry di Ohio, Amerika Serikat, lalu mengunggah video aksi penyerahan surat cease-and-desist tersebut ke akun resmi Call of Duty di platform X (Twitter).
Aksi penindakan hukum secara langsung di lapangan ini menjadi sinyal keras bagi para pengembang peranti lunak ilegal bahwa pengembang gim tidak lagi sekadar memblokir akun pemain curang di dalam sistem. Publikasi terbuka ini langsung disambut hangat oleh komunitas gamer yang selama ini resah dengan maraknya kecurangan di mode multiplayer online.
Momen Penyerahan Dokumen Hukum yang Terekam Kamera
Video berdurasi singkat tersebut memperlihatkan perwakilan hukum Activision mendatangi sebuah rumah di Ohio saat pelaksanaan uji coba beta tertutup gim terbaru mereka. Pria yang membukakan pintu—dengan wajah dikaburkan sepanjang video—tampak terkejut saat ditanya mengenai dokumen yang dibawakan. Perwakilan hukum Activision menjawab secara tegas bahwa dokumen tersebut berasal dari tim pengacara Activision dan merupakan perintah resmi penghentian kegiatan ilegal (cease-and-desist order).
Elocarry bukanlah target kecil dalam industri peranti lunak ilegal ini. Sebelum didatangi pihak hukum, penyedia jasa ini aktif mempromosikan paket cheat untuk gim populer seperti Black Ops dan Warzone. Peranti lunak haram tersebut mencakup fitur aimbot, ESP, triggerbot, hingga dukungan pengontrol yang diklaim aman dari sistem penangkalan kecurangan. Paket langganan ini dijual dengan harga fantastis mencapai sekitar Rp1,9 jutaan (£79,99 atau setara $101,5) untuk akses selama tiga bulan. Selain Call of Duty, Elocarry juga menjajakan cheat untuk gim besar lain seperti Apex Legends, Rust, Battlefield, hingga Marvel Rivals.
Gelombang Penindakan Masif dan Matinya Operasional Cheat
Langkah drastis ini merupakan bagian dari kampanye penegakan hukum yang jauh lebih luas dari Activision. Perusahaan mengungkapkan bahwa mereka telah melayangkan lebih dari 80 tuntutan cease-and-desist serupa, menghentikan lebih dari 375 operasi reseller, dan menutup secara permanen lebih dari 30 vendor utama pembuat peranti lunak curang. Ini membuktikan bahwa Activision kini menyerang langsung hulu dari ekosistem kecurangan tersebut.
Dampak dari aksi ini terasa instan. Meskipun situs web Elocarry masih aktif secara umum, katalog gim Call of Duty dan Warzone mendadak hilang dari daftar produk yang mereka dukung. Dalam pengumuman internal di kanal Discord yang dibagikan Activision, pihak Elocarry mengonfirmasi telah menghentikan sementara seluruh penjualan produk Call of Duty untuk melakukan peninjauan internal. Strategi agresif ini melanjutkan kemenangan hukum Activision sebelumnya pada tahun 2024 melawan EngineOwning, di mana pengadilan memenangkan tuntutan ganti rugi sebesar Rp247,8 miliar ($14 juta).
Dukungan Komunitas dan Masa Depan Anti-Cheat
Tanggapan dari komunitas Call of Duty sebagian besar diwarnai oleh rasa puas dan antusiasme tinggi. Pemain yang sudah muak menghadapi persaingan tidak sehat di mode kompetitif dan Warzone menganggap publikasi video penyerahan dokumen ini sebagai kemenangan moral yang memberikan kepuasan tersendiri. Momen ini sekaligus menjadi bukti keseriusan pengembang dalam menjaga integritas permainan.
Di samping langkah hukum langsung, Activision terus memperkuat sistem perlindungan internal mereka melalui sistem RICOCHET Anti-Cheat berbasis kernel-level yang telah beroperasi sejak 2021. Meskipun peranti anti-kecurangan ini sempat menuai perdebatan terkait tingkat aksesnya pada perangkat PC pengguna, kombinasi antara teknologi penangkalan dan penindakan hukum yang agresif diharapkan mampu menekan angka kecurangan secara drastis dalam jangka panjang.

