Kiwi Ears Coda USB-C DAC resmi meluncur dengan pendekatan berbeda di segmen audio portabel. Alih-alih mengandalkan aplikasi desktop atau driver khusus, pabrikan asal Tiongkok ini memindahkan seluruh pengaturan suara ke situs web. Hasilnya, DAC mungil ini menawarkan equalizer 5-band yang bisa diakses langsung dari browser, tanpa perlu instalasi perangkat lunak tambahan.
Dengan harga eceran Rp531 ribuan ($29.99), Coda menyasar pengguna smartphone, tablet, dan laptop yang ingin peningkatan kualitas audio tanpa repot. Bobotnya hanya 10 gram, dengan dimensi 30,9 x 14,7 x 11,5 mm. Konektor USB-C pria menambah panjang sekitar 6,7 mm, sehingga total panjang efektif mencapai 21,4 mm. Bodinya terbuat dari aluminium alloy, memberi kesan kokoh namun tetap ringan untuk dibawa bepergian.
Spesifikasi Audio dan Konektivitas
Di dalamnya, Coda mendukung decoding PCM hingga 32-bit/384kHz. Ini menempatkannya di jajaran DAC portabel yang sanggup menangani file hi-res. Ada dua output headphone: 3.5 mm unbalanced dan 4.4 mm balanced. Keduanya mampu mengeluarkan daya hingga 30 mW pada beban 32 Ω. Angka THD+N di bawah 0,003% dan SNR di atas 114 dB menunjukkan distorsi sangat rendah dan rasio sinyal terhadap noise yang bersih.
Kiwi Ears mengklaim desain ini bertujuan menghadirkan soundstage akurat namun luas, sekaligus menjaga detail halus dalam musik. Klaim tersebut sejalan dengan spesifikasi teknis yang mumpuni. Namun perlu dicatat, daya 30 mW per channel terbilang moderat. Untuk IEM (in-ear monitor) dan headphone efisiensi tinggi, output ini sudah memadai. Tetapi untuk headphone planar magnetik atau model dengan impedansi tinggi, pengguna mungkin perlu menambah amplifier eksternal.
EQ Berbasis Web: Simpel tapi Terbatas
Salah satu daya tarik utama Coda adalah sistem equalizer berbasis web. Pengguna cukup membuka situs Kiwi Ears Equalizer, lalu menyesuaikan 5-band EQ sesuai selera. Preset bisa disimpan untuk digunakan nanti. Pendekatan ini menghilangkan kebutuhan akan driver atau software khusus, yang sering menjadi hambatan bagi pengguna awam.
Namun, ada keterbatasan yang perlu dicermati. Karena pengaturan dilakukan melalui browser, artinya perangkat harus terhubung ke internet untuk mengakses situs tersebut. Tidak ada aplikasi offline atau kontrol on-device. Bagi sebagian pengguna, ini mungkin terasa kurang praktis, terutama saat bepergian tanpa koneksi stabil. Di sisi lain, pendekatan ini membuat Coda kompatibel lintas platform tanpa perlu menunggu pembaruan aplikasi.
Desain dan Build Quality
Dengan bobot 10 gram, Coda nyaris tidak terasa saat menempel di smartphone. Bodi aluminium alloy memberi kesan premium dan tahan lama. Ukurannya yang mungil membuatnya mudah dimasukkan ke saku atau pouch kecil. Konektor USB-C pria dilengkapi strain relief yang tampaknya cukup kokoh, meski tentu perlu uji jangka panjang untuk memastikan durabilitasnya.
Kiwi Ears tidak menyertakan tombol fisik atau layar pada Coda. Semua kontrol dilakukan via web. Ini pilihan desain yang berani, mengingat kompetitor sekelas biasanya menyediakan aplikasi mobile. Namun, bagi pengguna yang menyukai kesederhanaan, tidak adanya tombol justru mengurangi risiko salah tekan.
Perbandingan dengan DAC Portabel Lain
Di rentang harga Rp500 ribuan, ada beberapa DAC USB-C lain seperti Moondrop Dawn Pro atau Tempotec Sonata HD. Coda menonjol karena output balanced 4.4mm dan EQ berbasis web. Sebagian besar kompetitor di harga serupa hanya menyediakan output 3.5mm atau EQ via aplikasi. Kehadiran balanced output memberi fleksibilitas lebih bagi pengguna IEM dengan kabel balanced, yang biasanya menawarkan pemisahan channel lebih baik.
Dari sisi daya, Coda tergolong standar. DAC lain di kelasnya ada yang mampu memberikan output lebih tinggi, misalnya 50 mW atau lebih. Namun, untuk penggunaan sehari-hari dengan IEM, 30 mW sudah cukup. Yang membedakan Coda adalah kemudahan pengaturan EQ tanpa aplikasi tambahan.
Ketersediaan dan Harga
Kiwi Ears Coda USB-C DAC dijual dengan harga Rp531 ribuan ($29.99). Produk tersedia di situs resmi Kiwi Ears dan Amazon. Belum ada informasi resmi mengenai ketersediaan di Indonesia, namun mengingat merek ini cukup populer di kalangan audiophile Tanah Air, kemungkinan besar akan segera masuk melalui distributor lokal.
Sebagai catatan, harga tersebut belum termasuk pajak dan biaya pengiriman jika dibeli dari luar negeri. Calon pembeli di Indonesia perlu memperhitungkan biaya tambahan tersebut.
Apakah Coda Layak Dibeli?
Bagi Anda yang mencari DAC USB-C mungil dengan output balanced dan EQ yang bisa diatur dari browser, Coda menawarkan nilai menarik. Bobot ringan dan bodi aluminium menjadi nilai plus untuk mobilitas. Namun, ketergantungan pada koneksi internet untuk mengakses EQ bisa menjadi pengurangan tersendiri. Jika Anda sering menggunakan EQ dan berada di lingkungan tanpa internet stabil, ini patut dipertimbangkan.
Secara keseluruhan, Kiwi Ears Coda adalah produk niche yang menargetkan pengguna yang menghargai kesederhanaan dan fleksibilitas. Performa audio sesuai spesifikasi yang dijanjikan: distorsi rendah, noise rendah, dan dukungan file hi-res. Untuk harga Rp531 ribuan, ini termasuk kompetitif di segmennya.
Kelebihan
• Output balanced 4.4mm dan unbalanced 3.5mm dalam satu perangkat mungil.
• Dukungan PCM 32-bit/384kHz untuk audio resolusi tinggi.
• Bodi aluminium alloy ringan, hanya 10 gram.
• EQ 5-band berbasis web tanpa perlu driver atau aplikasi.
Kekurangan
• Pengaturan EQ memerlukan koneksi internet karena berbasis situs web.
• Daya output 30 mW per channel tergolong moderat untuk headphone sulit.
• Tidak ada aplikasi mobile untuk pengaturan offline.
Secara keseluruhan, Kiwi Ears Coda USB-C DAC adalah pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan DAC portabel dengan balanced output dan EQ fleksibel. Harga Rp531 ribuan sepadan dengan fitur yang ditawarkan, asalkan Anda tidak keberatan dengan ketergantungan pada browser untuk mengatur suara.