AI & INOVASI / LIPUTAN KHUSUS

Intrik Antariksa: Fleksibilitas Rocket Lab & Ambisi Dua Pad Blue Origin

/ Rocket Lab perkenalkan sistem GHOST untuk peluncuran fleksibel, sementara Blue Origin hadapi tantangan mesin BE-4 dan umumkan rencana dua pad peluncuran ambisius.

ANIF SIRSAEBA •
Foto ilustrasi: Intrik Antariksa: Fleksibilitas Rocket Lab & Ambisi Dua Pad Blue Origin
Intrik Antariksa: Fleksibilitas Rocket Lab & Ambisi Dua Pad Blue Origin
FOTO: Ars Technica

Dunia antariksa komersial terus bergejolak dengan inovasi, tantangan, dan ambisi yang tak terbatas. Dari sistem peluncuran portabel hingga rencana ekspansi infrastruktur raksasa, para pemain utama dalam industri ini tak henti-hentinya mendorong batas teknologi. Namun, di balik setiap kemajuan, tersimpan pula rintangan teknis dan finansial yang harus diatasi.

Inovasi Fleksibilitas dan Tantangan Jadwal Rocket Lab

Rocket Lab, perusahaan yang dikenal dengan roket Electron-nya, kini bersiap melangkah lebih jauh dalam hal fleksibilitas peluncuran. Mereka memperkenalkan sistem "Global Hypersonic & Orbital Spaceport Technology" (GHOST), sebuah konsep spaceport portabel yang memungkinkan roket Electron dan HASTE mereka meluncur dari mana saja dan kapan saja. Ini adalah langkah revolusioner yang akan mengubah cara misi antariksa, terutama untuk kebutuhan keamanan nasional dan kampanye multi-peluncuran, dilakukan.

Sistem GHOST ini tidak hanya memperluas jejak peluncuran Rocket Lab dari Selandia Baru dan Virginia ke Alaska, tetapi juga memberikan kemampuan adaptasi yang krusial. Bayangkan, sebuah perusahaan yang bisa menempatkan satelit ke orbit dari lokasi yang paling strategis, sesuai kebutuhan klien. Ini adalah terobosan yang dapat menghemat waktu dan biaya, sekaligus meningkatkan responsivitas. Namun, di sisi lain, pengembangan roket Neutron Rocket Lab masih menghadapi tanda tanya besar. Meskipun kemajuan terus dilaporkan, peluncuran perdana Neutron kini diperkirakan baru akan terjadi pada tahun 2027, setelah sebelumnya berulang kali mundur. Keterlambatan ini, meskipun wajar dalam proyek kompleks, menimbulkan pertanyaan bagi para calon pelanggan dan investor mengenai kepastian jadwal.

Blue Origin: Mengatasi Rintangan dan Ekspansi Infrastruktur

Blue Origin, raksasa antariksa besutan Jeff Bezos, juga menghadapi dinamika tersendiri. Setelah insiden ledakan roket New Glenn dan sebagian infrastruktur pad peluncuran LC-36A di Cape Canaveral pada Mei lalu, perusahaan ini bergerak cepat untuk mengidentifikasi masalah. Dave Limp, CEO Blue Origin, mengonfirmasi bahwa anomali berasal dari katup oksigen utama pada salah satu mesin BE-4 roket. Meskipun akar masalah belum sepenuhnya teridentifikasi, transparansi ini patut diapresiasi dan menunjukkan komitmen Blue Origin untuk kembali terbang sebelum akhir tahun.

Lebih dari sekadar perbaikan, Blue Origin juga mengumumkan rencana ambisius untuk mengembangkan dua pad peluncuran di Launch Complex 36. LC-36A akan dipulihkan untuk New Glenn versi 7x2 (tujuh mesin tahap pertama, dua mesin tahap atas), sementara pad yang lebih besar, LC-36B, akan dibangun sebagai rumah operasional untuk New Glenn 9x4 yang lebih besar. Pad baru ini akan dilengkapi fasilitas integrasi vertikal dan pemrosesan muatan yang canggih, mirip dengan menara peluncuran Starship milik SpaceX. Ekspansi ini menunjukkan komitmen jangka panjang Blue Origin untuk meningkatkan kapasitas peluncuran dan memenuhi permintaan yang terus meningkat di pasar antariksa. Bagi konsumen, ini berarti potensi lebih banyak slot peluncuran dan mungkin kompetisi harga yang lebih sehat di masa depan.

Dinamika Pasar Roket: Dari Kebangkitan hingga Kecelakaan

Selain Rocket Lab dan Blue Origin, beberapa pemain lain juga menunjukkan pergerakan signifikan. MaiaSpace, anak perusahaan ArianeGroup, berhasil diselamatkan dari pembubaran meskipun merugi sekitar Rp656,25 miliar (37,5 juta Euro) pada tahun 2025. Keputusan ini menunjukkan komitmen Eropa terhadap pengembangan peluncur baru mereka. Firefly Aerospace melaporkan permintaan tinggi untuk roket Alpha mereka, meskipun peningkatan produksi belum langsung diterjemahkan menjadi frekuensi peluncuran yang lebih tinggi.

Virgin Galactic, di tengah penantian layanan komersial Delta-1 yang diperkirakan Februari 2027 (dengan catatan kehati-hatian), kini bahkan membuka voting untuk penamaan pesawat antariksa baru mereka. Di sisi lain, Roket Factory Augsburg (RFA) harus menunda peluncuran perdana RFA One karena masalah tangki, meskipun masih menargetkan peluncuran tahun ini. Kabar duka datang dari Tiongkok, di mana roket Long March 7A meledak tak lama setelah lepas landas, menyoroti risiko inheren dalam teknologi roket. Sementara itu, Rocketdyne kembali menjadi perusahaan antariksa independen, fokus pada mesin roket dan sistem tenaga nuklir, dengan mesin RL-10-nya tetap menjadi aset kunci. Tak ketinggalan, SpaceX dikabarkan akan mengakuisisi lahan rawa luas di Louisiana, sebuah langkah strategis untuk mendukung ambisi peluncuran Starship yang masif. Semua ini menggambarkan betapa dinamis dan penuh tantangannya industri antariksa saat ini.

A
SENIOR AUDIO & WEARABLE SPECIALIST

Anif Sirsaeba

Mengelola dan menulis liputan audio, wearable, dan inovasi AI di KabarGadget.id. Fokus pada TWS, smartwatch, kamera, dan perkembangan model AI.

LIHAT SEMUA ARTIKEL OLEH ANIF SIRSAEBA →

TERKAIT