AI & INOVASI / LIPUTAN KHUSUS

Dominasi Roket SpaceX Mengubah Peta Persaingan Teknologi Antariksa

/ Riset terbaru mengungkap bagaimana teknologi roket guna ulang SpaceX membuat biaya peluncuran Amerika Serikat jauh lebih murah dibanding negara lain.

ANIF SIRSAEBA •
Foto ilustrasi: Dominasi Roket SpaceX Mengubah Peta Persaingan Teknologi Antariksa
Dominasi Roket SpaceX Mengubah Peta Persaingan Teknologi Antariksa
FOTO: Ars Technica

Revolusi Roket Guna Ulang dan Efisiensi Biaya

Dalam satu dekade terakhir, industri antariksa global mengalami pergeseran drastis berkat inovasi teknologi roket yang bisa digunakan kembali atau reusable. SpaceX, sebagai pionir utama, telah berhasil mengubah paradigma peluncuran dari yang sebelumnya sangat mahal dan sekali pakai, menjadi operasional yang rutin dan efisien. Data terbaru dari Economics Letters yang menganalisis lebih dari 6.700 peluncuran sejak 1960 menunjukkan bahwa Amerika Serikat kini memegang kendali atas lebih dari 82 persen pangsa beban muatan global ke orbit per 2024.

Keberhasilan ini tidak lepas dari peningkatan frekuensi peluncuran yang masif. Dengan menggunakan kembali badan roket Falcon 9, SpaceX mampu menekan biaya operasional secara signifikan. Bagi konsumen di bumi, hal ini berdampak pada kecepatan pengembangan infrastruktur berbasis satelit seperti internet kecepatan tinggi Starlink, yang kini dapat diakses lebih luas karena biaya kirim perangkat ke orbit menjadi jauh lebih terjangkau dibandingkan era roket konvensional.

Kesenjangan Biaya Peluncuran Global

Penelitian tersebut membedah perbedaan mencolok dalam biaya pengiriman muatan per kilogram ke orbit. Saat ini, Amerika Serikat memimpin dengan biaya rata-rata sekitar Rp51,6 juta ($3.225) per kilogram. Sebagai perbandingan, biaya di Eropa mencapai Rp158,3 juta ($9.897) per kilogram. Negara lain seperti Jepang berada di kisaran Rp84,5 juta ($5.287), China Rp92,9 juta ($5.809), Rusia Rp106,9 juta ($6.682), hingga India yang menyentuh angka Rp240 juta ($15.000) per kilogram.

Mahalnya biaya di beberapa negara sering kali disebabkan oleh ketergantungan pada roket berukuran kecil atau teknologi yang belum dapat diskalakan dengan baik. Bagi industri teknologi, angka-angka ini menjadi penentu utama apakah sebuah proyek satelit atau misi luar angkasa layak untuk dijalankan. Ketimpangan biaya yang mencapai tiga kali lipat antara Amerika Serikat dan Eropa menciptakan tantangan ekonomi yang berat bagi negara-negara yang masih mengandalkan teknologi roket lama.

Dilema Kebijakan Strategis di Eropa

Eropa kini berada dalam posisi yang cukup sulit di antara kebutuhan untuk tetap kompetitif secara strategis dan keterbatasan teknologi domestik. Para peneliti mencatat bahwa ketergantungan pada teknologi peluncuran Amerika Serikat yang lebih murah memang menguntungkan secara ekonomi, namun di sisi lain, hal ini menghambat pengembangan kemandirian teknologi antariksa Eropa sendiri. Upaya pengembangan roket lokal yang lebih modern sering kali berjalan lambat dan tersendat, seperti yang terlihat pada program Themis milik Badan Antariksa Eropa.

Ke depan, negara-negara yang ingin tetap relevan dalam ekonomi luar angkasa dipaksa untuk berinvestasi pada teknologi guna ulang. Tanpa adopsi teknologi roket yang dapat digunakan berkali-kali, biaya operasional akan terus membengkak dan menghambat inovasi. Dominasi Amerika Serikat saat ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia teknologi modern, efisiensi melalui inovasi radikal adalah kunci utama untuk memenangkan persaingan global, baik di darat maupun di luar angkasa.

SERI LIPUTAN

Eksplorasi Liputan #SpaceX

Semua #SpaceX
A
SENIOR AUDIO & WEARABLE SPECIALIST

Anif Sirsaeba

Mengelola dan menulis liputan audio, wearable, dan inovasi AI di KabarGadget.id. Fokus pada TWS, smartwatch, kamera, dan perkembangan model AI.

LIHAT SEMUA ARTIKEL OLEH ANIF SIRSAEBA →

TERKAIT