Persaingan pasar prosesor laptop kelas premium semakin memanas memasuki era transisi arsitektur baru. Pertarungan sengit antara Intel Lunar Lake dan Arrow Lake melawan AMD Krackan Point serta Strix Point kini berlanjut ke babak berikutnya, mempertemukan Intel Panther Lake dengan AMD Gorgon Point. Di sektor kemampuan komputasi murni (CPU), AMD memang masih mampu berdiri tegak dengan arsitektur Zen 5 miliknya yang sangat efisien dan bertenaga.
Namun, peta kekuatan bergeser drastis ketika kita melihat sektor pengolah grafis terintegrasi (iGPU). Langkah Intel yang agresif dalam meningkatkan arsitektur grafis Arc miliknya kini mulai menjadi tantangan serius bagi AMD. Pengujian terbaru pada laptop workstation kelas menengah membuktikan bahwa keunggulan grafis terintegrasi yang selama ini dibanggakan oleh kubu merah kini mulai terkejar dan bahkan tertinggal.
Ancaman Nyata Intel Panther Lake dan Arsitektur Arc Xe2-LPG
Intel melakukan lompatan besar pada lini prosesor Panther Lake Core Ultra X7 dan X9 dengan menyematkan GPU terintegrasi Intel Arc B390. Arsitektur grafis generasi terbaru ini dirancang khusus untuk menangani beban kerja grafis berat, kecerdasan buatan (AI), hingga kebutuhan gaming kasual tanpa memerlukan kartu grafis diskrit yang boros daya. Hasilnya, lompatan performa yang ditawarkan sangat masif dibandingkan generasi sebelumnya.
Di sisi lain, AMD tampak mengambil langkah aman yang justru menjadi celah bagi kompetitornya. Pada lini prosesor Gorgon Point, AMD masih mempertahankan arsitektur grafis RDNA 3+ yang digunakan pada Radeon 890M. Keputusan untuk melakukan penyegaran minor tanpa peningkatan arsitektur yang signifikan ini membuat performa grafis AMD cenderung berjalan di tempat, sementara kompetitornya melesat kencang ke depan.
HP ZBook 8 G2a 14 Jadi Bukti Ketertinggalan Radeon 890M
Kesenjangan performa ini terlihat sangat jelas dalam pengujian laptop workstation entry-level terbaru, HP ZBook 8 G2a 14. Laptop ini ditenagai oleh prosesor AMD Ryzen AI 9 HX PRO 470 yang sangat bertenaga untuk urusan komputasi harian dan multitasking berat. Namun, ketika diuji menggunakan aplikasi benchmark grafis sintetis 3DMark, GPU terintegrasi Radeon 890M di dalamnya harus mengakui keunggulan telak dari Intel Arc B390.
Pada pengujian 3DMark Time Spy Graphics dengan resolusi 2560x1440 piksel, Intel Arc B390 yang tertanam pada Asus ExpertBook Ultra B9406CAA berhasil mencetak skor fantastis sebesar 6.679 poin. Angka ini menunjukkan keunggulan mutlak hingga 91 persen dibandingkan Radeon 890M pada HP ZBook 8 G2a 14 yang hanya mampu meraih 3.505 poin. Hasil serupa juga terjadi pada pengujian 1920x1080 Fire Strike Graphics, di mana Intel Arc memimpin dengan skor 17.054 poin berbanding 8.930 poin milik AMD.
Bahkan pada pengujian yang lebih ringan seperti 3DMark 11 resolusi 1280x720, Intel Arc B390 masih unggul stabil sekitar 30 persen dengan skor 18.313 poin melawan 14.071 poin dari Radeon 890M. Data pengujian ini menunjukkan bahwa untuk kebutuhan akselerasi grafis, varian berbasis Intel seperti HP ZBook 8 G2i 14 menawarkan nilai guna yang jauh lebih tinggi bagi para profesional kreatif.
Dilema AMD di Segmen Menengah yang Kian Terhimpit
Situasi ini menempatkan AMD dalam posisi yang cukup sulit di segmen laptop premium kelas menengah. Memang benar bahwa AMD masih memiliki kartu as berupa arsitektur Strix Halo yang menawarkan performa grafis luar biasa di kelas tertinggi. Namun, ketersediaan laptop dengan chip Strix Halo sangat terbatas dan umumnya dibanderol dengan harga yang sangat mahal, sering kali menembus angka puluhan juta rupiah.
Sementara di kelas entry-level, solusi grafis seperti Radeon 860M masih cukup kompetitif untuk bersaing dengan grafis standar Intel. Titik lemah terbesar AMD saat ini berada tepat di segmen menengah—wilayah kekuasaan Strix Point. Tanpa pembaruan arsitektur GPU terintegrasi yang revolusioner dalam waktu dekat, laptop bertenaga AMD di kelas ini akan terus kesulitan bersaing dengan laptop berbasis Intel Panther Lake yang menawarkan performa grafis jauh lebih superior.
