Kehadiran versi remaster dari sebuah game legendaris kerap dinanti para pencinta genre strategi dengan antusiasme tinggi. Harapan tersebut mendadak berubah menjadi kekecewaan massal ketika Creative Assembly, MATABOO, dan Sega meluncurkan Total War Shogun 2 Complete Edition di Steam pada 13 Oktober. Ali-Ali menghadirkan pengalaman taktis yang memukau bagi penggemar modern, edisi terbaru ini justru menuai kritik pedas akibat kualitas visual yang dianggap berantakan dan performa teknis yang buruk.
Game strategi klasik yang rilis perdana pada tahun 2011 ini dulunya berhasil memikat jutaan pemain berkat kedalaman gameplay dan atmosfer feodal Jepang yang kental. Namun, versi pembaruan yang dibanderol seharga Rp708 ribuan ($39.99) ini justru memicu reaksi keras di berbagai platform komunitas seperti Reddit dan Steam. Berdasarkan data ulasan di Steam, tingkat kepuasan pemain anjlok drastis dengan hanya mengantongi 18 persen ulasan positif dari sekitar 1.700 ulasan yang masuk.
Kritik Tajam terhadap Dugaan Grafis Buatan AI
Pemicu utama kemarahan komunitas adalah penurunan kualitas visual yang sangat mencolok pada beberapa aset karakter setelah mendapatkan perombakan grafis. Sejumlah pemain membagikan tangkapan layar perbandingan yang memperlihatkan wajah samurai berubah bentuk menyerupai robot alih-alih manusia realistis. Tidak hanya itu, ilustrasi baru dalam game tersebut bahkan menampilkan prajurit asal Portugis dengan kejanggalan anatomi berupa enam jari pada satu tangan.
Temuan ini memicu spekulasi kuat di kalangan Redditors bahwa tim pengembang memanfaatkan model kecerdasan buatan atau AI berkualitas rendah untuk meningkatkan resolusi tekstur tanpa melalui proses kurasi atau pemeriksaan ulang yang layak. Salah satu pengguna Reddit, u/mr-english, bahkan membuktikan bahwa penggunaan model AI gratisan secara mandiri mampu menghasilkan kualitas visual yang jauh lebih baik dibandingkan hasil kerja resmi pengembang game tersebut.
Masalah Performa Berat dan Mod yang Rusak
Kendala teknis pada versi Complete Edition ternyata tidak berhenti pada masalah estetika visual belaka. Para pemain di Steam melaporkan rentetan bug mengganggu, kontrol unit yang terasa lamban, hingga penurunan kestabilan performa yang parah. Situasi ini diperparah dengan fakta bahwa game strategi klasik tersebut mengalami kendala frame rate bahkan saat dijalankan menggunakan perangkat keras komputer kelas atas saat ini.
Seorang pengguna melaporkan hanya mampu mendapatkan kisaran 30 hingga 40 FPS ketika memainkan game ini di resolusi 4K menggunakan kartu grafis papan atas RTX 5090. Perpindahan platform dukungan mod dari Steam Workshop ke Mod.io turut memperkeruh suasana karena membuat banyak modifikasi buatan komunitas versi lama tidak lagi berfungsi secara otomatis tanpa penyesuaian manual yang merepotkan.
Hilangnya Akses Versi Klasik dengan Harga Wajar
Aspek lain yang memicu kekecewaan mendalam di kalangan basis penggemar setia adalah kebijakan distribusi yang diterapkan di etalase digital Steam. Edisi Complete Edition ini secara otomatis menggantikan keberadaan game versi aslinya. Walaupun versi orisinalnya masih disertakan di dalam paket pembelian edisi baru tersebut, pemain kini harus merogoh kocek jauh lebih dalam.
Berdasarkan catatan platform pelacakan SteamDB, game aslinya di masa lalu kerap dijual lewat program diskon menarik dengan harga terjangkau di kisaran Rp133 ribuan ($7.50). Keputusan memaksa pemain membeli paket lengkap yang bermasalah dengan harga hampir enam kali lipat tentu mencederai loyalitas penggemar lama yang hanya ingin menikmati game klasik tanpa gangguan teknis.

