Industri game kembali diguncang oleh kelanjutan drama kebocoran data Grand Theft Auto VI (GTA 6). Kali ini, induk perusahaan Rockstar Games, Take-Two Interactive, mengambil langkah hukum yang sangat agresif. Tidak tanggung-tanggung, raksasa penerbit game tersebut resmi melayangkan panggilan pengadilan (subpoena) kepada dua raksasa teknologi dunia, Microsoft dan Discord, demi mengungkap identitas kelompok peretas di balik kebocoran tersebut.
Langkah hukum ini diambil setelah kelompok peretas yang menamakan diri mereka CyberLeek menyebarkan cuplikan video gameplay dari versi pengembangan awal GTA 6. Tidak sekadar membocorkan, kelompok ini juga mengklaim telah menguasai versi game yang sepenuhnya dapat dimainkan (playable build) dan mengancam akan merilis lebih banyak data sensitif jika tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh Rockstar Games.
Tuntutan Ideologis dan Promosi Kripto di Balik Layar
Menariknya, motif di balik aksi peretasan CyberLeek ini tidak hanya bermotif finansial langsung dari sang penerbit, melainkan juga membawa tuntutan ideologis yang cukup unik. Kelompok peretas ini menuntut agar Rockstar Games dan Take-Two menghentikan penjualan prapesan (pre-order) digital, menghentikan pembuatan DLC mode pemain tunggal (single-player) yang dianggap palsu, serta berkomitmen untuk melestarikan konten single-player murni. Selain itu, mereka juga menuntut permintaan maaf secara terbuka dari pihak Rockstar kepada komunitas gamer.
Namun, di balik tuntutan yang terdengar membela hak-hak konsumen tersebut, ada motif ekonomi terselubung yang sedang dijalankan oleh CyberLeek. Laporan menunjukkan bahwa kelompok ini memanfaatkan video bocoran GTA 6 yang viral untuk mempromosikan mata uang kripto tertentu. Spekulasi di kalangan komunitas keamanan siber bahkan menyebutkan adanya kemungkinan keterlibatan kelompok peretas kedua yang juga memiliki akses ke data build GTA 6 tersebut, membuat situasi semakin rumit bagi Take-Two.
Detail Somasi Hukum dan Data Pengguna yang Diincar
Berdasarkan dokumen pengadilan yang diajukan ke Pengadilan Distrik Selatan New York, Take-Two menuntut Microsoft dan Discord untuk menyerahkan seluruh informasi yang dapat mengidentifikasi akun pengguna yang terhubung dengan server Discord CyberLeek. Dokumen ini menargetkan aktivitas komunikasi yang terjadi sejak tanggal 1 Juni 2026 hingga saat ini. Take-Two ingin melacak setiap jejak digital yang ditinggalkan oleh para anggota kelompok peretas tersebut di platform tersebut.
Data spesifik yang diminta oleh Take-Two sangatlah mendalam dan sensitif. Mereka menuntut penyerahan ID akun, alamat email pendaftaran, alamat IP saat mendaftar dan login terakhir, nomor telepon, akun pihak ketiga yang tertaut (seperti Google atau Xbox), hingga pengenal perangkat keras unik (MachineGuid/MSA). Tidak hanya itu, Take-Two juga meminta akses ke konten yang disimpan di akun OneDrive milik pengguna terkait yang mengandung kata kunci Grand Theft Auto, Rockstar, atau Cyberleek.
Batas Waktu bagi Microsoft dan Discord
Pengadilan memberikan tenggat waktu yang sangat ketat bagi Microsoft dan Discord. Kedua perusahaan teknologi tersebut diwajibkan untuk menyerahkan seluruh data yang diminta paling lambat tanggal 4 September. Langkah ini diharapkan dapat mempersempit ruang gerak para pelaku dan memberikan bukti konkret bagi penegak hukum untuk melakukan penangkapan fisik terhadap para anggota CyberLeek.
Kasus ini menjadi preseden penting dalam industri game global mengenai bagaimana sebuah perusahaan besar melindungi kekayaan intelektualnya. Kebocoran data berskala besar untuk proyek yang diperkirakan menelan biaya pengembangan hingga lebih dari Rp3,2 triliun ($200 juta) ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga merusak moral tim pengembang yang telah bekerja bertahun-tahun demi menyajikan kejutan bagi para penggemar saat game tersebut resmi dirilis nanti.



