Electronic Arts mengambil langkah dramatis dengan menangguhkan pengembangan game The Sims yang belum diumumkan berkode Project Lotus. Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang juga berujung pada penutupan studio legendaris BioWare. Keputusan pahit tersebut diumumkan melalui surat resmi Chief Operating Officer David Tinson dan Chief Studios Officer Cam Weber kepada para karyawan pada 21 Oktober.
Langkah ekstrem ini terjadi sekitar dua setengah bulan setelah raksasa penerbit game tersebut resmi memprivatisasi bisnisnya. Penataan ulang skala besar ini merestrukturisasi alokasi tim dan memprioritaskan waralaba yang dianggap memiliki nilai komersial paling stabil.
Fokus Ulang Sumber Daya ke Project Evergreen
Keputusan menangguhkan Project Lotus diambil demi mengamankan pengembangan proyek The Sims lain berkode Project Evergreen. Manajemen EA menegaskan bahwa penahanan proyek ini bertujuan memberikan waktu dan sumber daya tambahan bagi tim Project Evergreen. Langkah ini diambil agar visi penuh game tersebut dapat tercapai secara maksimal tanpa terbagi fokus.
Langkah ini menuntut pengorbanan besar. Surat internal penerbit memang menyebutkan istilah penangguhan, bukan pembatalan permanen. Namun, manajemen belum membeberkan detail alur permainan Project Lotus maupun potensi pengalihan aset ke judul The Sims mendatang. Keputusan strategis ini menggarisbawahi pergeseran prioritas studio.
Penutupan BioWare dan Gelombang PHK
Keputusan paling mengejutkan dalam pengumuman ini adalah penutupan studio BioWare beserta ruang kerja utamanya di Edmonton. Penutupan ini otomatis menghentikan tahap awal pengembangan seri terbaru Mass Effect yang telah lama dinantikan penggemar. Penghentian ini mengakhiri riwayat panjang studio dibalik sukses waralaba RPG legendaris tersebut.
Dampak penutupan studio ini terasa sangat nyata. Laporan dari Bloomberg menyebutkan sekitar 400 karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Angka tersebut setara dengan 3 persen dari total tenaga kerja global Electronic Arts. Sekitar 50 staf di antaranya berasal langsung dari studio BioWare. Selain itu, pengembangan game free-to-play skate. tetap dilanjutkan tetapi dengan skala tim yang jauh lebih kecil.
Waralaba Utama dan Proyek Masa Depan EA
Di tengah pemangkasan ini, Electronic Arts tetap mempertahankan beberapa proyek skala besar yang dinilai prospektif. Perusahaan memastikan pengembangan game Marvel’s Iron Man dan judul terbaru Star Wars Jedi tetap berjalan sesuai rencana. Pengembangan lini game tembak-menembak juga terus digenjot.
Studio Respawn dan DICE dijadwalkan berkolaborasi untuk menggarap proyek rahasia di lini game shooter Battlefield. Investasi pada Apex Legends juga berlanjut melalui penambahan mode multiplayer baru. Waralaba utama EA Sports FC tetap mendapat prioritas penganggaran. Dua proyek olahraga baru juga tengah disiapkan, yaitu Project Gridiron yang mengusung genre open-world sepak bola Amerika berbasis sosial serta kembalinya waralaba tinju Fight Night.
Implikasi Akuisisi Raksasa Senilai Rp973,5 Triliun
Restrukturisasi masif ini berjarak pendek dari proses akuisisi bernilai fantastis. Konsorsium investor yang terdiri dari PIF, Silver Lake, dan Affinity Partners menyelesaikan akuisisi Electronic Arts senilai Rp973,5 triliun ($55 miliar) pada 4 Agustus. Kesepakatan akuisisi tersebut didanai oleh pinjaman utang sebesar Rp354 triliun ($20 miliar).
Tekanan finansial pasca-akuisisi mengubah peta jalan perusahaan. EA menetapkan tiga pilar utama: memperdalam waralaba inti, memperluas jangkauan pasar, dan mentransformasi model bisnis. Strategi ini dirancang untuk memastikan efisiensi di tengah beban utang yang signifikan. Pengarah alokasi modal kini berfokus pada proyek yang menjamin pengembalian investasi lebih pasti.


