Kabar kurang menyenangkan kembali menghampiri para pencinta konsol genggam berbasis Android. Produsen konsol permainan asal Tiongkok, AYN Technologies, secara resmi mengumumkan kenaikan harga untuk jajaran perangkat unggulan mereka, Ayn Odin 3. Langkah ini menandai penyesuaian harga ketiga kalinya yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun 2026 ini.
Keputusan mendadak ini tentu mengejutkan calon pembeli yang tengah mengincar konsol genggam populer tersebut. Kenaikan harga kali ini mencakup varian Ayn Odin 3 Base, Pro, hingga Max. Sementara itu, varian Ultra tidak mengalami penyesuaian harga karena pasokannya yang sudah lama habis di pasaran dan disinyalir telah dihentikan produksinya.
Rincian Kenaikan Harga Varian Ayn Odin 3
Dalam pengumuman resminya melalui saluran Discord, pihak AYN mengungkapkan bahwa penyesuaian harga baru ini akan mulai berlaku efektif pada 1 September 2026. Bagi konsumen yang berencana meminang konsol ini dengan nominal lama, mereka disarankan untuk segera melakukan pemesanan sebelum tanggal berlaku harga baru tersebut.
Secara rinci, varian Ayn Odin 3 Base yang sebelumnya dibanderol sekitar Rp5,58 jutaan ($349) kini naik menjadi sekitar Rp5,9 jutaan ($369). Jika dibandingkan dengan harga peluncuran pertamanya yang berada di angka Rp5,26 jutaan ($329), varian paling terjangkau ini telah mengalami lonjakan total sebesar $40. Sementara itu, varian Ayn Odin 3 Pro mengalami kenaikan dari Rp7,18 jutaan ($449) menjadi Rp7,5 jutaan ($469), atau melambung $70 lebih mahal dibandingkan harga perdananya.
Varian tertinggi yang masih tersedia, Ayn Odin 3 Max, mencatatkan kenaikan paling signifikan dari harga Rp7,98 jutaan ($499) menjadi Rp8,46 jutaan ($529). Dibandingkan harga awal rilisnya yang sebesar Rp7,18 jutaan ($449), varian Max kini membengkak hingga $80 lebih mahal.
Lonjakan Biaya Komponen Utama Jadi Pemicu
Pihak AYN menjelaskan bahwa lonjakan harga ini terpaksa dilakukan akibat meroketnya biaya produksi pasokan komponen inti. Faktor pendorong utamanya adalah kenaikan harga chipset dari Qualcomm serta merambatnya harga pasar memori DRAM dan penyimpanan internal berteknologi UFS secara global.
Manajemen AYN menegaskan bahwa mereka telah berupaya menekan persentase kenaikan sekecil mungkin dan telah menyerap sebagian dari pembengkakan biaya tersebut agar tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen. Namun, tekanan biaya rantai pasok komponen yang kian tidak terkendali membuat penyesuaian harga tidak lagi dapat dihindari.
Tren Kenaikan Harga Mengintai Industri Handheld
Fenomena naiknya harga konsol gaming genggam ternyata tidak hanya dialami oleh AYN. Industri konsol genggam retro dan Android secara keseluruhan sedang menghadapi tantangan serupa akibat krisis harga komponen memori dan prosesor.
Sebelumnya pada awal Agustus 2026, kompetitor mereka, Retroid, juga mengumumkan kenaikan harga untuk lini konsol terbarunya, Pocket Nova. Penyesuaian harga tersebut bahkan diberlakukan hanya berselang beberapa minggu setelah perangkat tersebut resmi dilepas ke pasaran. Hal ini mengindikasikan bahwa tren kenaikan harga gawai gaming kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.