Huawei Mate 90 Pro Max, ponsel pintar premium terbaru dari Huawei, kini menjadi sorotan setelah debut chipset Kirin 9050 Pro di platform benchmark Geekbench 7. Perangkat ini, bersama dengan Mate 90 RS Edition, ditenagai oleh chipset buatan sendiri yang diklaim sebagai andalan Huawei untuk tahun ini. Namun, hasil pengujian awal mengungkap performa yang mungkin membuat sebagian penggemar merasa kurang puas.
Pengujian Kirin 9050 Pro pada Huawei Mate 90 Pro Max menunjukkan angka yang cukup mengejutkan, menempatkannya di antara performa chipset lama. Ini menjadi poin penting bagi konsumen yang mengharapkan inovasi dan kekuatan maksimal dari sebuah smartphone flagship.
Mengupas Performa Kirin 9050 Pro di Atas Kertas
Chipset Kirin 9050 Pro yang tersemat di Huawei Mate 90 Pro Max mencatat skor single-core 1.117 dan multi-core 5.076 pada Geekbench 7. Angka-angka ini, meskipun belum terverifikasi secara resmi dan konon diuji melalui DroiTong translation container, memberikan gambaran awal tentang kapabilitas CPU-nya. Sayangnya, performa ini menempatkan Kirin 9050 Pro sejajar dengan chipset Snapdragon 8 Gen 1 dan Snapdragon 8 Gen 2.
Perlu diingat, Snapdragon 8 Gen 2 sendiri sudah berusia sekitar lima tahun. Ini berarti secara performa CPU mentah, Kirin 9050 Pro tertinggal cukup jauh dari standar flagship masa kini. Bahkan, ia dilaporkan kalah dari Google Tensor G6 yang ditemukan pada seri Pixel 11.
Performa yang kurang optimal ini sebagian besar disebabkan oleh pembatasan ketat yang terus dihadapi Huawei. Pembatasan ini sangat memengaruhi kemampuan Huawei dalam mengakses teknologi fabrikasi chipset terkini, yang krusial untuk menghasilkan performa kompetitif.
Implikasi Performa untuk Pengguna Mate 90 Pro Max
Bagi pengguna Huawei Mate 90 Pro Max, performa chipset Kirin 9050 Pro ini memiliki implikasi nyata. Untuk tugas sehari-hari seperti menjelajah web, media sosial, atau aplikasi produktivitas ringan, ponsel ini tentu akan tetap berjalan mulus. Namun, ketika beralih ke skenario yang lebih menuntut seperti gaming berat atau multitasking intensif dengan aplikasi yang haus daya, perbedaan performa mungkin akan terasa.
Ponsel flagship modern biasanya menawarkan performa CPU dan GPU yang jauh di atas angka tersebut, memungkinkan pengalaman gaming dengan frame rate tinggi dan kemampuan rendering grafis yang superior. Dengan Kirin 9050 Pro, pengguna mungkin perlu menurunkan pengaturan grafis pada beberapa game terbaru. Ini bukan sebuah kekurangan fatal, tetapi menjadi catatan penting untuk smartphone di segmen premium.
Di sisi lain, Huawei Mate 90 Pro Max mungkin akan tetap unggul di area lain yang menjadi ciri khas Huawei, seperti kualitas kamera atau daya tahan baterai, yang tidak selalu bergantung sepenuhnya pada performa CPU mentah. Namun, untuk persaingan di pasar smartphone flagship yang semakin ketat, performa chipset adalah salah satu pilar utama yang menentukan daya saing.
Menimbang Posisi Huawei Mate 90 Pro Max di Pasar Smartphone Premium
Huawei Mate 90 Pro Max dengan chipset Kirin 9050 Pro datang ke pasar dengan tantangan berat. Meskipun Huawei terus berinovasi di banyak aspek, keterbatasan dalam pengembangan chipset membuat produk flagship mereka berada di posisi yang unik. Konsumen yang mencari performa mentah terbaik untuk gaming atau aplikasi profesional mungkin akan mempertimbangkan opsi lain, seperti Google Pixel 11 Pro yang dibanderol mulai Rp19,5 jutaan ($1,099).
Namun, bagi mereka yang mengutamakan ekosistem Huawei, desain premium, atau fitur fotografi yang mungkin menjadi keunggulan lain dari Mate 90 Pro Max, ponsel ini tetap bisa menjadi pilihan menarik. Huawei terus menunjukkan ketahanan dan komitmennya untuk menghadirkan perangkat berkualitas tinggi, terlepas dari segala rintangan. Performa Kirin 9050 Pro adalah cerminan dari kondisi yang ada, bukan berarti Huawei berhenti berinovasi.



