Ketika Penyimpanan Cloud Berubah Menjadi Mimpi BurukKehilangan data berharga adalah mimpi buruk bagi siapa saja, baik pengguna kasual maupun perusahaan media besar. Kejadian tragis ini menimpa Nine PBS, sebuah stasiun televisi afiliasi PBS di St. Louis, Amerika Serikat. Mereka kini terancam kehilangan arsip digital bersejarah berukuran 50 terabyte (TB) setelah penyedia layanan penyimpanan cloud mereka, Open Source Storage (OSS), tiba-tiba bangkrut dan berhenti beroperasi tanpa pemberitahuan.
Arsip yang terkunci tersebut bukan sekadar data biasa. Di dalamnya terdapat rekaman sejarah penting selama 70 tahun terakhir, termasuk dokumentasi eksklusif mengenai pandemi COVID-19, sejarah wilayah East St. Louis, bencana Banjir Besar tahun 1993, serta lebih dari 11.000 file video yang bersifat unik dan tidak dapat digantikan. Ketika kontrak mereka berakhir pada Maret lalu, Nine PBS mendapati diri mereka terputus dari semua akses data tersebut karena OSS tidak lagi merespons panggilan mereka.
Konflik Hukum Antara Pemilik Data dan Pengelola Infrastruktur FisikUntuk menyelamatkan data tersebut, Nine PBS mengambil langkah hukum dengan menggugat Iron Mountain Data Centers, perusahaan raksasa yang menyewakan fasilitas fisik tempat server OSS berada. Di sinilah letak kerumitan teknisnya. Iron Mountain menegaskan bahwa mereka tidak memiliki akses langsung ke dalam sistem penyimpanan digital tersebut. Tugas mereka hanyalah menyediakan infrastruktur fisik seperti gedung, aliran listrik, konektivitas jaringan, dan sistem pendingin udara.
Pihak Iron Mountain menolak memberikan akses begitu saja kepada Nine PBS demi menjaga privasi data dan menghindari pelanggaran kontrak dengan OSS. Membuka server pihak ketiga tanpa izin pengadilan berisiko membocorkan data sensitif milik klien OSS lainnya. Beruntung, pengadilan Denver akhirnya mengeluarkan perintah sementara yang melarang Iron Mountain menghapus atau memodifikasi data tersebut, serta mewajibkan penyerahan perangkat keras fisik kepada pihak ketiga yang netral untuk proses penyelamatan data dalam waktu 30 hari.
Pelajaran Berharga bagi Pengguna Layanan Cloud ModernKasus ini menjadi pengingat yang sangat berharga bagi konsumen dan pelaku industri mengenai risiko nyata dari ketergantungan penuh pada satu penyedia layanan cloud tunggal. Banyak organisasi berasumsi bahwa menyimpan data di cloud berarti data tersebut akan selalu aman dan dapat diakses kapan saja. Namun, ketika penyedia layanan tersebut mengalami masalah finansial atau hukum, pengguna sering kali menjadi korban pertama yang kehilangan akses ke aset digital mereka sendiri.
Strategi pencadangan data yang kokoh harus selalu menerapkan prinsip hibrida atau multi-cloud. Mengandalkan satu vendor tanpa memiliki salinan lokal (on-premise) atau cadangan di penyedia cloud sekunder adalah langkah yang sangat berisiko. Bagi konsumen sehari-hari, hal ini juga berlaku untuk penyimpanan foto dan dokumen pribadi di platform populer; selalu pastikan Anda memiliki salinan fisik di hard disk eksternal demi menghindari skenario terburuk seperti yang dialami oleh Nine PBS.